ini cerpen absurd, maafkan -_- haha
MEMORIES AT PARIS
Siang itu sang Surya sedang sangat tidak
bersahabat . Entah apa yang membuatnya marah , sehingga bumi yang bak lautan
manusia ini seolah beralih fungsi menjadi pemanggang raksasa . Aku yang sudah
10 menit duduk di halte dekat sekolah merasakan bahwa bajuku telah lengket dan
dibasahi oleh keringat yang mengalir dengan lancarnya dari kulitku . Dan
berharap angkutan yang biasa aku tumpangi segera datang . Seolah memiliki
kontak batin dengan pak supir angkuta , Ia langsung datang menghampiri ketika
aku memikirkannya . Yah mungkin supir angkuta jauh lebih peka daripada
kebanyakan manusia di jagad raya ini.
Kak Ivan dan teman-teman satu bandnya yakni
Kak adit , Kak Danil , dan Kak Guntur telah menguasai ruang tengah yang memang
pernah mereka patenkan bahwa ruang itu adalah ruang band mereka . Tapi tetap
saja tidak wajar bagiku . Ini adalah rumah milik keluargaku, walau kak Ivan
adalah kakak kandung sekaligus saudara tunggalku , tapi tetap tidak adil jika
ruang tengah yang biasa kami gunakan untuk berkumpul bersama keluarga setiap
malam (setidaknya sebelum mama dan papa dinas di paris) digunakan seenaknya
oleh anak band yang bagiku nggak jelas itu .
Aku lewat dihadapan mereka dengan cuek.
Seperti dugaanku, Kak Danil yang biasa jahil dengan sigap langsung bangkit dari
sofa putih yang disinggahinya dan menghadangi jalanku .
“Hay cantik.. Baru pulang ya? Kok ga telfon
aja. Kan bisa aku jemput “ dengan gaya
sok cool Kak danil menyapaku . Bukan sok cool , bagiku itu gaya sok imut . Aku
melirik ke arah Kak Ivan . Melirik yang bermakna sebuah sinyal bahwa aku minta
dirinya melindungiku dari gombalan Kak Danil . Namun Kak Ivan justru tersenyum
usil. Dan dilanjutkan tertawa terbahak-bahak . Kak Adit dan kak guntur pun
melakukan hal yang sama seperti Kak Ivan . Merasa tidak ada yang melindungi ,
aku pun segera mendorong kak Danil ke arah sofa , dan membiarkannya terjatuh .
Bukan marah atau menangis, Kak Danil justru tertawa terbahak-bahak. Cukup, aku
muak dengan tingkah mereka.
Satu
langkah melewati pintu kamarku rasanya seperti memasuki pesawat yang akan
membawaku terbang jauh ke awan . Sungguh sangat nyaman dan tenang . Aku langsung merebahkan badanku ke kasur
yang sangat besar dan empuk . Rasanya penat sekali menjalani hidup yang
begini-begini saja . Sejak tiga tahun lalu , Ayah ditugaskan di Paris dan Bunda
ingin fokus mengurus butik miliknya yang juga ada di Paris . Akhirnya mereka menetap di Paris . Aku dan
Kak Ivan ditinggal di Jakarta. Awalnya aku senang, karena ini ajang latihan
mandiri bagiku . Itu kenapa , aku tidak mau menggunakan mobil yang ditinggalkan
kedua orang tuaku . Aku lebih memilih naik kendaraan umum yang tersedia . Namun
belakangan ini, aku mulai lelah dengan hidupku .
Tidak
seperti biasa, sore itu aku merasa sangat lelah . Mungkin aku sudah bosan
dengan rutinitasku . Hampir 3 tahun sudah setiap hari kecuali tanggal merah ,
aku selalu menginjakkan kaki di SMA Nusa Taruna yang merupakan SMA swasta
terfavorit di Jakarta . Disela-sela lamunanku tiba-tiba ponselku mengeluarkan
suara yang menandakan ada sebuah pesan singkat yang masuk .
‘Gisela , besok Ayah dan Bunda sampai di jkt .
Siap2 ktm Ayah Bunda , je t’aime’
Duerrr.. Serasa mendapat sebuah hadiah tiket
ke surga , rasa lelah yang tadi singgah di tubuhku seketika lenyap . Hanya
perasaan senang yang melanda hatiku . Tanpa terasa , mata ini merapat dan aku
sudah berada di alam mimpi .
#Besok pagi
“Hoaammmm...”
Mataku masih menyipit , tak terasa aku tidur
sejak kemarin sore hingga pukul 8 pagi ini . Untunglah hari ini hari Minggu ,
jadi aku tidak perlu kewalahan untuk pergi ke sekolah . Karena hari ini hari
minggu, bagiku adalah hari yang tepat untuk bermalas-malasan . Hanya dengan
sikat gigi dan cuci muka , aku segera turun untuk mencari makanan yang bisa
digunakan untuk mengisi perut . Tidak biasa, aroma nasi goreng telah merebah ke
seluruh ruangan . Biasanya jika pagi Mbok Miyem hanya menyediakan roti dan
segelas susu . aroma nasi goreng tadi menggugah semangatku untuk segera tiba di
ruang makan.
Ketika
aku menginjakkan langkah tepat di ruang makan, alangkah terkejutnya aku melihat
Ayah dan Bunda telah duduk berhadapan di
meja makan.
“Ayah ... Bunda ... “ aku langsung
menghampiri mereka dan memeluk mereka dengan pelukan hangat .
“Aku ga nyangka Ayah sama Bunda datang
secepat ini .. “
“Ini semua kejutan untukmu nak..”
“Iya yah, terkejut kok aku . Hahahaha.. Oh
iya kak Ivan mana? Dia harus tau kedatangan kalian “
“Gue disini kok . Lo kangen gue ya? Hahah”
Kak Ivan tiba-tiba hadir dalam ruang makan .
“Enak aja , ngapain gue kangen lo. Ogah
banget. Tuh Ayah Bunda disambut dongg!!”
“Hahahah”
“Yee.. kok lo Cuma ketawa sih kak? Nyebelin
lo!”
“sudah .. Sudah .. Kalian ini bertengkar
terus . Tadi Kak Ivan udah nyambut Bunda sama Ayah waktu kita dateng . Terus
Kak Ivan izin buat mandi ..” Suara lembut bunda mencoba mendamaikan keadaan .
“Tuh denger !! Lagian elo cantik-cantik kebo!
Jam 8 baru bangun . Pantes lo ga pernah punya pacar .. hahaha” Kak Ivan terus
saja meledekku . Seakan air yang baru saja mendidih, aku ingin mengeluarkan
semua uap yang telah menggumpal .
“Apaan sih lo! Ngomong dijaga kek! Biarin
aja, gue emang ga mau pacaran . Emang elo playboy!!”
“Husst sudah..sudah .. Ini Ayah bisa stroke
sehari disini . Ayah sama Bunda tuh mau liburan . Kalian hargai kami lah,
setidaknya hari ini saja..” Ayah sudah tidak kuat lagi .
“Maaf yah , bun” Aku dan kak Ivan mengucapkan
bersamaan dengan wajah tertunduk malu .
Sebenarnya
aku dan kak Ivan sudah terbiasa ribut kecil-kecilan seperti tadi . Namun
sepertinya Ayah dan bunda memang benar-benar kelelahan sehingga tidak kuat
untuk melihat pertengkaran kecil saja .
Hari-hari aku lalui seperti biasa. Namun jika
dibandingkan hari yang pernah aku lewati , seminggu terakhir ini jauh lebih
indah karena hadirnya Ayah dan bunda diantara aku dan Kak Ivan . Tepat seminggu
Ayah dan bunda di jakarta , mereka mengajak aku dan kak Ivan untuk dinner di
sebuah resto eksklusif di jakarta. Tidak heran, karena resto itu milik teman
dekat Bunda .
#Malam hari di Resto
“Gisela, Ivan , Ayah dan Bunda ingin memberi
tau kalian suatu hal penting “ Ayah memecah keheningan yang tercipta diantara
kami . Jujur saja, aku sedang mengagumi resto yang disebut ‘eksklusif’ ini .
Dan sepertinya Kak Ivan melakukan hal yang sama denganku .
“Emm mau ngasih tau apa yah?” tanyaku setelah
sadar dari lamunanku.
“Ayah dan Bunda itu kan sudah semakin tua.
Kondisi fisik kami sudah tidak seperti dulu , kami juga punya banyak kesibukan
di Paris . Jadi Ayah ingin kalian berdua ikut kami pindah ke paris ...”
Seperti dunia ini berhenti berputar, waktu
berhenti berjalan, pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Ayahku
seperti tawaran antara hidup atau mati . Aku masih terhanyut akan lamunanku .
“Tapi Yah ..” Kak Ivan menyadarkanku dari
lamunan mautku.
“Ivan kan disini tinggal skripsi . Lagian Ivan
punya band di sini yah . Gak mungkin Ivan tinggalin semua ini begitu aja”
“Ivan, kalo kamu ingin merampungkan skripsimu
dulu, silahkan . Ayah tidak melarang. Tapi setelah itu kamu bisa pindah ke
paris. Ayah bisa menempatkanmu di posisi mapan di kantor Ayah , untuk band Ayah
fikir itu semua tidak memiliki progres yang baik ..”
“Tapi yah, bandku itu udah mendarah daging di tubuhku”
“Ivan percayalah.. Ayah tau yang terbaik
untukmu”
Aku melihat ekspresi wajah kak Ivan. Ia
terlihat diam , tapi diam yang menyimpan dendam. Aku mengerti kak Ivan ingin
menentang, tapi ia tidak berdaya sekarang.
“Gisel, gimana dengan kamu? Sekolahmu kan
tinggal 1 bulan lagi . Setelah ujian nasional, kamu bisa langsung terbang ke
paris . Gimana? Oh iya , dulu kan kamu sangat ingin kuliah di Paris Sobonne
University kan? Fakultas management di sana terkenal elok “
Ayah panjang lebar menjelaskan. Aku hanya
terbengong. Memang segala yang diucapkan Ayah benar. Tapi aku harus berfikir
lagi untuk berpindah ke paris .
“Akan aku fikirkan, yah”
“Bagus . . Ayah percaya kalian adalah
anak-anak yang baik . Besok Ayah dan bunda akan kembali ke paris. Kalian harus
jaga diri baik-baik. Ivan, temani adikmu belajar, bimbing dia , jaga dia ..”
“baik yah” jawab kak Ivan lesu . Aku tau apa
yang dirasakan kak Ivan saat ini. Walau bagaimanapun , kak Ivan tetaplah kakak
ku, aku mengerti kondisinya. Dan sepertinya acara makan malam kali ini telah
rusak . Rusak dalam arti, suasana hati ku dan kak Ivan yang menjadi gundah
gulana .
#Hari kepulangan Ayah bunda ke paris
“Ivan, gisel , kalian hati-hati ya di
jakarta. Ayah tunggu kedatangan kalian di paris , nanti jika perlu sesuatu
hubungi Ayah atau bunda saja . dan kamu gisel, Ayah akan urus masalah kuliahmu
di paris”
Aku dan kak Ivan hanya tersenyum dan
mengangguk . Kami tidak mengantar Ayah dan bunda ke bandara. Mereka berangkat
malam , dan sebagai siswa yang mendekati ujian nasional, aku harus belajar .
Lagipula sebentar lagi aku akan bertemu mereka lagi. Menetap bersama mereka .
BMW
silver yang membawa Ayah dan bunda telah berlalu , kini tinggalah aku , kak Ivan
, dan mbok miyem yang ada di rumah . Tiba-tiba kak Ivan menepuk pundakku .
“Dek , gue mau ngomong sama lo . Tapi ngomong
rahasia” suara kak Ivan berubah menjadi sebuah bisikan di kalimat kedua .
“yaudeh kak, ngomong aja ..”
“ngomong nya ga di sini dodol! Ayo ke kamar
lo aja ..”
Menuruti apa yang diperintah kak Ivan adalah
hal yang paling membuatku aman bagiku saat ini .
#di kamar gisela
“dek , jujur ya gimana perasaan lo ?” kak Ivan
langsung menembakku dengan pertanyaan ga
jelas .
“Ha?? Maksud lo apaan sih?”
“Ya gimana perasaan lo tentang pindahan kita
ke paris? Lagian perasaan gue lo belom ngomong iya kan ke Ayah? Tapi kok Ayah
udah mau nyiapin kuliah lo di sana ya?”
Otakku kembali berputar kencang . Aku baru
sadar bahwa aku harus memilih . Tapi aku belum juga melakukannya . Tapi tunggu,
sepertinya Ayah yang sudah memilihkannya untukku . Ya, Ayah memilih aku untuk
tinggal di paris . Ahh rasanya tidak adil ..
“Woy.. !! Malah bengong lo!! “ kak Ivan
menyadarkanku dari lamunanku .
“Eh .. emm iya kak gue belom bilang iya.
Gatau tuh Ayah. Lagian emang bisa ya gue milih engga? Kayanya udah gabisa. Lo
tau kan Ayah gimana kalo udah punya keinginan”
“Hmm,,, iya juga sih . Tapi sel , lo fikir
lagi deh. Gue harus bilang apa sama anak-anak T-back band? Terus emang si Sinta
mau ngejalanin LDR an ?? Complicated banget nih”
“Ahh elo kak. Masih aja mikirin pacar. Di
sana lo akan dapet bule-bule kak. Hahaha”
“Ck... Kok elo gitu ? Jadi lo udah pasrah
nih?”
Aku tidak melontarkan kata-kata lagi . Aku
hanya mengangkat kedua pundak dan alisku. Lalu merebahkan diri di kasur .
“udah kak, lo jalanin dulu aja. Itung-itung
nyenengin Ayah bunda. Kan selama ini kita nyusahin mereka mulu . Udah , fine
kan ? Nah , lo keluar gih dari kamar gue, gue ngantuk!!”
“gila lo!! Belajar sana! Gue kan suruh
ngawasin lo belajar ! Belajar gih!”
“ah bodo amat gue ngantuk, bye”
Dengan mengabaikan kak Ivan , aku langsung
memejamkan mata. Entah apa yang akan kak Ivan lakukan lagi, aku tak peduli .
Hari-hari
telah kulewati seperti biasa, dan membosankan . Tak terasa 4 hari kedepan aku
akan menghadapi UN . Dengan bekal ilmu yang kudapat selama ini, serta doa dan
dukungan dari orang-orang terdekatku aku yakin bisa mengerjakan . Aku bukanlah
anak yang mudah bergaul, teman akrab saja tidak ada. Jadi jangan harap aku
dapat contekan .
UN
telah terjamah, sesuai perjanjian dengan Ayah bunda sebulan lalu , akupun
langsung terbang ke paris . Rasanya memang aneh. Aku merasa seperti boneka yang
dilakonkan oleh orang lain, dan aku hanya mengikuti . Selama kurang lebih 8 jam
berada di pesawat , akhirnya Orly International Airport terjamah .
Walau
sempat bingung karena ini kali pertama aku pergi ke paris , untunglah Ayah segera
muncul dan memelukku hangat .
“akhirnya , kamu tiba juga di paris .. Bienvenue
“
“Ayah , ini perjalanan yang sangat panjang,
aku lelah . Tapi paris indah sekali . Merci untuk kesempatan ini yah “
“De rien . Ayah bilang juga apa, kau
tak akan menyesal. Ayo kita pulang . Kamu akan tinggal bersama Ayah dan bunda
selama di paris “
“Baik yah..”
Aku
dan Ayah telah berada dalam sebuah mobil yang berjalan . Sebelum sampai di
rumah, Ayah memang mengajakku sedikit mengagumi keindahan kota paris . Dari
dalam mobil, aku dapat melihat jembatan yang berada di atas sungai seine , dan
menara eifel yang menjulang tinggi ke langit . Rasanya benar kata Ayah , aku
tidak akan menyesal .
Tak
lama kami pun tiba di rumah . Bunda menyambutku dengan kecupan di pipi kanan
dan kiri . Bunda terlihat sangat senang menyambut kedatanganku . Setelah
sedikit berbincang-bincang , bunda mengantarkanku ke kamar yang berada di
lantai dua . bunda menginginkan aku untuk beristirahat .
Entah
apa yang sebenarnya terjadi, tetapi mengapa aku merasa sangat kesepian di sini
. Dan tiba-tiba teringat akan satu sosok jail yang selama ini menghantuiku ,
Kak Ivan . Aku bergegas mencari ponselku dan menekan angka yang menunjukkan
nomor kak Ivan dan menekan tulisan ‘call’ . Tak lama kemudian, terdengar suara
kak Ivan menyambut di seberang sana .
“Hay cantik .. Udah sampe kan?”
“Udah kak. Baru aja , eh sepi juga ga ada lo
..”
“Hahah kangen nih ceritanya? Eh
kangen-kangennya nanti aja ya , gue lagi sama sinta nih . Bye .”
“eh kak, bentar .. Eh .. Yahh nyebelin bener
nih orang . Tau ah nyebelin lo”
Seperti
diabaikan , aku merasa sendiri dan akhirnya aku memutuskan untuk tidur .
Waktu
berjalan sangat cepat . Di Jakarta, pengumuman kelulusan sudah terlewati , dan
aku yang bukan siswa bodoh mendapat nilai yang sangat baik . Untuk prodi IPS ,
aku mendapat peringkat kedua paralel di sekolahku . Dan dengan berbagai proses
dan usaha aku berhasil lolos untuk masuk fakultas business management di Paris
Sobonne University . Cukup puas, karena aku bisa memenuhi keinginan kedua orang
tuaku . Singkat waktu , akupun mulai kuliah .
Hari-hari
ku lalui seperti biasa . Bangun pagi , kuliah , dan masih seperti dulu , aku
tidak mudah bergaul . Sehingga aku tidak memiliki teman dekat , apalagi pacar .
Namun setidaknya , aku memiliki tempat favorit yang bagiku bisa menjadi teman .
Sungai Seine , ya sungai yang berada tidak jauh dari menara eifel itu memiliki
daya tarik tersendiri bagiku . Apalagi ketika malam hari , lampu-lampu yang
menghiasi pinggir sungai dan menerangi kota paris akan terlihat sangat indah .
Ditambah dengan musisi jalanan yang selalu hadir sebagai penghibur. Sebenarnya
musisi jalanan itu merupakan teman satu kampusku , tapi jujur aku tidak tau
siapa nama mereka . Ya sekedar hafal wajah mereka saja .
Sabtu
. Hari ini aku merasa sangat lelah . Entah apa yang membuatku merasa sangat
lelah , mungkin lagi-lagi rasa bosan . Malam itu rasanya aku sangat ingin pergi
ke pinggir sungai seine . Dan mendengar merdunya alunan musik dari para musisi
jalanan . Akupun langsung beranjak dari tempat tidurku , membuka lemari dan
mengambil jaket kulit yang cukup tebal berwana ungu serta meraih syal motif
abstrak yang tergantung di dalam lemari . Setelah menutup lemari , aku mencari
dompet dan handphoneku yang mini dan memasukkannya ke saku celana. Aku
memutuskan untuk minta diantar sopir keluargaku ke sana karena Ayah dan bunda
mencemaskan kondisiku . Namun setelah tiba di sungai seine, aku meminta agar
sopirku meninggalkanku sendiri, dengan jaminan aku akan memintanya menjemputku
ketika aku ingin pulang .
Seperti
biasa , aku menyusuri pinggiran sungai seine dan berhenti di dekat para musisi
jalanan berkumpul . Aku melihat mereka sedang bersiap-siap , akupun memutuskan
untuk duduk di sebuah kursi yang berada tepat di pinggir sungai seine . Di
sekitar sana ada sebuah stand yang menjual coklat panas . Aku tahu itu adalah
stand yang nomaden karena biasanya penjual
coklat itu tidak ada . Karena merasa kedinginan, aku pun memesan satu cup
coklat panas dan kembali duduk di kursi persinggahanku tadi . Ketika aku sedang
hanyut dalam lamunan mengagumi keindahan menara eifel dari pinggir sungai ,
tiba-tiba alunan suara yang merdu memecah lamunanku . Tapi tunggu , ini tidak
biasa . Sepertinya aku mengenal intro musik yang dimainkan . Sepertinya sangat
akrab di telingaku. Ini.... Ini lagu indonesia .. Lalu aku mencoba tenang dan
mendengarkan ..
Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku
Warna-warna indahmu
Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupku
Terlihat jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki ..
Ini..
ini lagu kesukaanku . Tunggu , siapa yang melantunkannya ? Mengapa ia fasih
benar berbahasa indonesia ? Dengan dasar penasaran , akupun segera menolehkan kepalaku
ke sumber suara dan terlihat wajah berdarah asia, tepatnya indonesia milik
seorang pria dengan postur tubuh yang hampir sempurna . Kulit putih bersih tapi
masih terlihat macho , bukan putih banci . Terlihat tangan dan dada yang
berotot . Tidak gemuk tapi juga tidak kurus . Jujur aku terpesona ..
Tanpa
sadar akupun terus memandangi pria tersebut hingga mungkin pria itu merasa
risih dan datang menghampiriku . Barulah aku sadar dari arus lamunan yang
menggeretku .
“Bonsoir..” Sapa pria itu .
“Bon..Bonsoir”
“Indonesia? Bisa?”
“Emm .. Iya , bisa ..”
“Sudah kuduga , dari wajah dan dari caramu
ikut menyanyikan lagu tadi aku bisa memastikan kamu orang indonesia “ Celetuk
pria itu sambil mendudukan tubuhnya di kursi panjang yang sedang ku duduki .
“Kuliah atau kerja di sini ?” tanya pria itu
.
“Emm aku masih kuliah kok “ entah apa yang
membuatku gerogi . Aku merasa ingin menjawab singkat-singkat pertanyaan pria
tersebut .
“Waw, kita sama dong . Okey kenalin aku Aji .
Mahasiswa di Paris Sobonne jurusan Seni . Spesifiknya seni musik .. How bout
you?”
“Loh , kita satu kampus ? Aku Gisela , aku juga
mahasiswi di sana , tapi ambil jurusan Bisnis manajemen ... “
“Waw , jodoh mungkin . Haha .. Kamu dari
jakarta bukan?”
“Iya, kok tau ? “
“Nebak aja sih, tapi bener kan ? Tuh kita
jodoh beneran “ Aji sangat mudah mengakrabkan sikon . Setelah basa basi singkat
, kamipun ngobrol tentang banyak hal . Hingga tak terasa waktu telah
menunjukkan pukul 22.30 .
“Aji , maaf aku harus pulang . “ izinku
kepada Aji takut Ia tersinggung .
“Oh okey . Kamu naik apa?”
“Aku akan minta jemput sopirku “ jawabku
sambil mengeluarkan ponsel .
“Tunggu,, gimana kalo aku antar ? Itung-itung
biaya kenalan. Aku bawa vespa kok . Tapi santai , vespa di sini gak brutak kaya
di jakarta . “
“Hahahah kamu lucu banget , yaudah lah aku
terima tawaranmu” Tiba-tiba otakku berputar lima kali lebih cpat . Apa yang
membuatku langsung tertarik menerima ajakannya padahal kami baru kenal. Ini
gila, ah entahlah . Yang penting aku sampai di rumah dengan selamat .
Keesokkan
harinya . Pagi-pagi aku sudah bangun , dan turun menuju ruang makan untuk
sarapan walau hanya sepotong roti dan segelas susu . Baru saja aku ingin duduk
di meja makan . Ayah langsung melarangku .
“Hey anak gadis Ayah , kamu mau ngapain ?”
“Loh , ya mau sarapan dong yah . Aku kan juga
butuh makan ..”
“Kamu masih sempat makan padahal di luar
pacar kamu sudah nunggu ?”
Pacar?? Pacar apa ?? Aku bingung setengah
mati . Aku menatap wajah bunda , hanya sebuah senyuman yang bisa dibilang tawa
yang ada pada wajah bunda .
“Itu di depan , pacar kamu sudah nunggu .
Kamu punya pacar ya sekarang? Hati-hati , jangan sampai kuliahmu terganggu ..”
Aku
makin tidak paham apa yang dikatakan Ayah . Akhirnya aku memutuskan untuk
keluar , melihat siapa yang menunggu , dan setelah aku melangkahkan kakiku satu
langkah dari pintu utama rumah , aku melihat sesosok pria yang duduk diatas
vespa berwarna biru yang semalam aku tumpangi .
“Ajii???”
“Eh , iya pagi gisel .. maaf aku mendadak
gini “ Aji langsung tersadar dari lamunannya setelah mendengar suaraku
meneriakkkan namanya .
“Iyaa gapapa . Kok kamu ke sini?”
“Ga boleh ya? Niatku mau jemput kamu sih kan
kita sekampus “ wajah Aji menjawab dengan ekspresi lemas .
“Eh boleh kok, boleh banget. Tapi aku takut
ngerepotin . Yaudah deh yuk berangkat .. Eh bentar .. Yah.. Bun .. Aku
berangkat yaa” aku berteriak pamit di akhir kalimatku .
Kamipun berangkat bersama ke kampus . Jujur
sejak pertama bertemu aku merasa ada perasaan aneh yang hinggap di diriku .
Betah karena nyaman bersama Aji . Itu lah yang aku rasakan . Tapi entahlah ..
Aku sedang tidak ingin pusing karena hal itu . Hari ini aku akan jauh lebih
pusing karena aku akan menghadapi ujian lisan .
Setibanya
di kampus , Aji mengajakku bertemu dengan teman-temannya . Mungkin karena
semalam aku bercerita bahwa aku bukan tipe orang yang mudah bergaul , dan itu
membuat Aji iba mendengarnya hingga sekarang Ia mengenalkanku dengan
teman-temannya . Banyak sekali teman yang dikenalkan denganku . Tapi tidak ada
satupun yang berkesan . Karena semuanya sama . Terakhir , Aji mengenalkanku
dengan Wiliam . Wiliam yang ‘agak’ membekas karena Ia satu-satunya anak yang
bisa bebahasa Indonesia walaupun sebenarnya Ia berkebangsaan Itali . Tapi
Wiliam memiliki Ibu yang asli indonesia . Atau dengan kata lain Wiliam adalah
blasteran . Itu yang membuatku betah berbincang dengan mereka berdua . Kami
bertiga berbincang-bincang dan menjadi akrab satu sama lain .
Berawal
karena niat tulus nan baik Aji, saat ini Aku , Aji dan Wiliam menjadi tiga
serangkai yang selalu bersama kemanapun kami pergi . Walau aku satu-satunya
yang mengambil jurusan berbeda di Sobonne , itu tidak menjadi halangan . Namun
tentang perasaanku .. Setelah aku bercerita banyak dengan Kak Ivan , aku
bercerita tentang rasa nyamanku saat bersamanya , rasa ingin selalu melihatnya
gembira , dan kebiasaanku yang selalu bersamanya walau sebenarnya ada Wiliam
diantara kami ,Kak Ivan mengatakan bahwa perasaan yang kurasakan ialah cinta .
Hah konyol mendengarnya . Tapi sedikit banyak aku percaya akan ucapan Kak Ivan . Ternyata cinta itu rumit .
Satu
semester telah kulewati , rasanya aku ingin liburan ke Jakarta . Ayah dan Bunda
pun mengizinkan walau mereka tak bisa ikut . Mungkin sebenarnya mereka kecewa
dengan Kak Ivan . Janji Kak Ivan untuk pindah ke Paris tidak pernah ditepati .
Namun aku bisa mengerti kondisi Kak Ivan . Akupun berpamitan kepada Aji dan
Wiliam . Bingung melandaku ketika aku berpamitan dengan Aji dan Wiliam yang
ikut mengantarku ke Bandara. Tiba-tiba Aji menangis dan langsung memelukku .
Disela tangis dan pelukan itu , Aji membisikkan sesuatu .
“Je t’aime .. Sebagai temanku..”
Rasanya seperti tertusuk panah berbahan dasar
besi , dengan diameter 3 cm dan ujung yang sangat runcing melebihi runcingnya
pensil untuk ujian . Sakit, jadi selama ini Aji benar-benar menganggapku hanya
teman ? HANYA TEMAN ? Oke, mungkin ini jawaban , atau pernyataan bahwa aku
harus berhenti mencintai Aji . Tanpa
banyak bicara , aku segera pergi , lenyap dari hadapan mereka .
Setelah
mengalami perjalanan yang cukup panjang, akhirnya aku tiba di Jakarta . Dengan
dijemput Kak Ivan yang sedang bersama Sinta , akupun pulang dari bandara menuju
ke rumah . Di tengah perjalanan , Kak Ivan menawariku untuk ikut liburan Kak
Ivan dan Sinta ke sebuah Villa di puncak , Bogor .Kak Ivan mengaku lelah dengan
padatnya jadwal show band miliknya . Akupun menyetujui , walau aku tau aku
harus bertemu dengan Kak Danil , Kak Guntur dan Kak Adit . Tapi setidaknya ada
Sinta dan pacar-pacar anak band lainnya yang bisa menemaniku .
Singkat
cerita, setelah dua hari beristirahat di rumah , aku dan keluarga besar T-back
band berangkat ke puncak. Walau jalan macet , tapi itu semua terbayarkan
setelah kami tiba di Villa . Pemandangan dan fasilitas Villa yang disewa Kak
Ivan sungguh menakjubkan . Interior Villa tersebut klasik tapi simple , tidak
jauh dari Villa terdapat kebun teh yang sangat luas . Kebun teh itu bisa
terlihat dari Villa . Sungguh indah . Sejenak, aku bisa melupakan segala
kepenatanku selama di Paris . Yah , dan setidaknya aku bisa melupakan kebiasaanku bersama Aji walau aku
yakin hanya mempan untuk sementara .
Selama
di puncak , aku selalu merasakan hal-hal yang menggembirakan , melakukan
aktivitas yang tidak membosankan , dan selalu saja ada tawa diantara kami semua
. Kami berencana akan berada di sini selama seminggu . Hari Minggu lalu kami
tiba di sini . Dan sekarang sudah hari Rabu . Sepertinya singkat sekali . Aku
tidak percaya ini terasa cepat sekali . Sampai aku benar benar melupakan segala
hal yang ada di Paris . Tunggu , Aku bahkan melupakan kedua orang tuaku . Tapi
sepertinya mereka juga sangat sibuk , karena saat aku telfon untuk mengatakan
bahwa aku telah tiba di Jakarta yang menjawab telfonku adalah monsieur Lahzar ,
sopir pribadi Ayah . Ia mengatakan bahwa Ayah dan bunda tidak di rumah . Ah
biarlah, aku ingin menjernihkan otakku yang kotor dan lelah.
Hari
Rabu telah berlalu , hari berganti menjadi Kamis . Kamis pagi aku dikejutkan
oleh sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselku .
‘Gisel , km
dan Kak Ivan harus pulang sekarang ‘
Setelah
membaca pesan singkat dari Bunda aku segera memberi tau Kak Ivan dan kamipun
memutuskan untuk pulang . Tanpa diminta , teman-teman kak Ivan juga ikut pulang
. Awalnya aku berfikir Bunda dan Ayah
akan marah besar kepada Kak Ivan . Kak Ivan pun memikirkan hal yang sama
denganku . Namun kami mencoba tetap tenang .
Alangkah
terkejutnya ketika aku tiba di rumah . Rumah kami sangat ramai . Aku melihat banyak rangkaian bunga dari berbagai
perusahaan ternama yang bertuliskan ‘TURUT BERDUKA CITA’ . Tunggu, jangan
bilang jika... Aku segera turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Yang pertama kali aku lihat adalah Bunda sedang terduduk lemah sambil menangis
dilendetan Tante Mira dan di depan Bunda terlihat ada sebuah peti . Aku
Langsung mendekati bunda disusul dengan Kak Ivan.
“Bunda.. Ini kenapa? Ini Siapa yang
meninggal?”
“Gisel, Ivan , maaf bunda dan Ayah telah
menutupi segalanya dari kalian. Ayah sudah mengidap penyakit jantung koroner .
Dan itulah mengapa Ayah ingin kalian tinggal bersama kami di Paris . Ia ingin
bersama kalian di saat terakhirnya .. Kamu lihat kan Gisel , Ayahmu lebih
sering berada di kamar . Itu karena Ayah tidak ingin kamu tau penyakitnya”
Jelas bunda panjang lebar . Namun aku masih tidak percaya . Aku hanya bisa
menangis dan menangis , aku melihat Kak Ivan yang menatap peti jenazah dan Ia
langsung berlari menuju kamarnya . Aku tau apa yang dirasakan Kak Ivan ,
penyesalan .
Jenazah
Ayah sudah dimakamkan , para pelayat sudah meninggalkan kediaman kami kecuali
keluarga besar T-back band . Sejak kemarin , mereka bermalam di rumahku . Kami
semua tidak percaya akan kematian Ayah . Namun itulah yang terjadi . Kami semua
saling menenangkan satu sama lain . Disela-sela kesedihan kami , tiba-tiba
ponsel Kak Danil berbunyi . Ia mengangkat telfon dan ekspresi wajahnya berubah
drastis seketika .
“adikku .. Adikku yang selama ini kuliah di
luar negeri karna keegoisanku , , meniggal..”
Kak Danil langsung menjelaskan kepada kami
yang memasang wajah penasaran . Oh Tuhan .. Cobaan macam apa yang kau berikan
kepada kami semua . Tapi , aku baru tau kalau Kak Danil memiliki adik . Kak
Danilpun menceritakan semuanya .
Kak
Danil memiliki seorang adik yang sangat mencintai dunia mesin . Namun karena
musik telah mendarah daging di keluarga besar Kak Danil , Kak Danil tidak ingin
adiknya melenceng dari takdir yang diciptakan alm Papa Kak Danil . Kak Danil
memaksa adiknya untuk menggulati dunia musik . Karena lelah melihat perdebatan
anak-anaknya , Mama Kak Danil menyekolahkan adik Kak Danil di luar negeri ,
namun Kak Danil cukup kecewa sehingga Ia tidak ingin mengetahui dimana adiknya
sekolah . Kak Danil juga baru tau bahwa adiknya mengidap leukimia . Wawan , begitulah
Kak Danil memanggil adiknya . Setelah mendengar cerita panjang lebar, kami
semua bergegas ke rumah Kak Danil dan menunggu jenazah datang . Aku tidak
banyak bicara. Cukup pilu hati ini , mengapa orang yang aku sayangi pergi
secepat ini, Ayah ..
Terlihat
mobil sedan dan minibus datang . Dari minibus itu yang pertama kali keluar
adalah ... Wiliam . Tunggu, mengapa Wiliam ? Apa ini saudara dari ibunya ? Atau
apa ?
Aku langsung menghampiri Wiliam, dan Ia juga
keheranan melihatku , namun belum sempat aku mengucapkan sepatah katapun , Ia
memelukku dan meneteskan air mata .
“Wiliam , ada apa? Jelaskan !!”
“Kau akan tau sendiri..” Wiliam menoleh ke
arah jenazah yang keluar dari minibus itu dan betapa terkejutnya ketika aku
meihat wajah jenazah itu . AJI ???
Jadi Wawan adalah Aji ?? Setelah mengalami
kebingungan yang panjang , terjawablah sgalanya . Nama Aji adalah Aji Setiawan
dan nama kecilnya Wawan . Kenapa harus Aji ?? Kenapa semua orang yang ku
sayangi pergi ?? Tidak adil .. Tuhan tidak adil .. Aku hanya bisa menangis dan
menangis ..
Selepas
pemakaman usai , Wiliam masih merangkulku ..
“Kenapa Tuhan gak adil .. Ia mengambil semua
orang yang kusayang ..” Aku menggerutu dalam rangkulan Wiliam.
“Gisel .. mungkin bagimu tuhan mengambil
orang yang kamu sayangi . Tapi percayalah , tuhan masih menyisakan orang yang
menyayangi kamu .. Aku tau kamu menyayangi Aji . Begitu pula Aji . Namun
seiring waktu , Aku jauh lebih menyayangimu daripada Aji .. Aji yang mengatakan
semua itu padaku . Ia juga menitipkanmu untuk kujaga , karena Ia tau hidupnya
tidak lama lagi ..”
“Jadi kamu juga tau tentang penyakit aji ??
Kenapa kamu nggak ngasih tau aku ?”
“Aji tidak ingin kamu menyesal telah mencintainya
. Tapi percayalah , Di sini, ada aku yang akan menjagamu ..”
Seutas senyum terbentuk dari bibirku . Aji ,
aku tidak pernah menyesal menyayangimu ..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar