Sabtu, 06 Juli 2013

Cerpn karyaku *Memories at Paris*

         ini cerpen absurd, maafkan -_- haha
MEMORIES AT PARIS

   Siang itu sang Surya sedang sangat tidak bersahabat . Entah apa yang membuatnya marah , sehingga bumi yang bak lautan manusia ini seolah beralih fungsi menjadi pemanggang raksasa . Aku yang sudah 10 menit duduk di halte dekat sekolah merasakan bahwa bajuku telah lengket dan dibasahi oleh keringat yang mengalir dengan lancarnya dari kulitku . Dan berharap angkutan yang biasa aku tumpangi segera datang . Seolah memiliki kontak batin dengan pak supir angkuta , Ia langsung datang menghampiri ketika aku memikirkannya . Yah mungkin supir angkuta jauh lebih peka daripada kebanyakan manusia di jagad raya ini.
            Setelah sampai rumah ..
Kak Ivan dan teman-teman satu bandnya yakni Kak adit , Kak Danil , dan Kak Guntur telah menguasai ruang tengah yang memang pernah mereka patenkan bahwa ruang itu adalah ruang band mereka . Tapi tetap saja tidak wajar bagiku . Ini adalah rumah milik keluargaku, walau kak Ivan adalah kakak kandung sekaligus saudara tunggalku , tapi tetap tidak adil jika ruang tengah yang biasa kami gunakan untuk berkumpul bersama keluarga setiap malam (setidaknya sebelum mama dan papa dinas di paris) digunakan seenaknya oleh anak band yang bagiku nggak jelas itu .

            Aku lewat dihadapan mereka dengan cuek. Seperti dugaanku, Kak Danil yang biasa jahil dengan sigap langsung bangkit dari sofa putih yang disinggahinya dan menghadangi jalanku .
“Hay cantik.. Baru pulang ya? Kok ga telfon aja. Kan bisa aku jemput “  dengan gaya sok cool Kak danil menyapaku . Bukan sok cool , bagiku itu gaya sok imut . Aku melirik ke arah Kak Ivan . Melirik yang bermakna sebuah sinyal bahwa aku minta dirinya melindungiku dari gombalan Kak Danil . Namun Kak Ivan justru tersenyum usil. Dan dilanjutkan tertawa terbahak-bahak . Kak Adit dan kak guntur pun melakukan hal yang sama seperti Kak Ivan . Merasa tidak ada yang melindungi , aku pun segera mendorong kak Danil ke arah sofa , dan membiarkannya terjatuh . Bukan marah atau menangis, Kak Danil justru tertawa terbahak-bahak. Cukup, aku muak dengan tingkah mereka.

            Satu langkah melewati pintu kamarku rasanya seperti memasuki pesawat yang akan membawaku terbang jauh ke awan . Sungguh sangat nyaman dan tenang  . Aku langsung merebahkan badanku ke kasur yang sangat besar dan empuk . Rasanya penat sekali menjalani hidup yang begini-begini saja . Sejak tiga tahun lalu , Ayah ditugaskan di Paris dan Bunda ingin fokus mengurus butik miliknya yang juga ada di Paris .  Akhirnya mereka menetap di Paris . Aku dan Kak Ivan ditinggal di Jakarta. Awalnya aku senang, karena ini ajang latihan mandiri bagiku . Itu kenapa , aku tidak mau menggunakan mobil yang ditinggalkan kedua orang tuaku . Aku lebih memilih naik kendaraan umum yang tersedia . Namun belakangan ini, aku mulai lelah dengan hidupku .
           
            Tidak seperti biasa, sore itu aku merasa sangat lelah . Mungkin aku sudah bosan dengan rutinitasku . Hampir 3 tahun sudah setiap hari kecuali tanggal merah , aku selalu menginjakkan kaki di SMA Nusa Taruna yang merupakan SMA swasta terfavorit di Jakarta . Disela-sela lamunanku tiba-tiba ponselku mengeluarkan suara yang menandakan ada sebuah pesan singkat yang masuk .
                                    ‘Gisela , besok Ayah dan Bunda sampai di jkt .
                                     Siap2 ktm Ayah Bunda , je t’aime’
Duerrr.. Serasa mendapat sebuah hadiah tiket ke surga , rasa lelah yang tadi singgah di tubuhku seketika lenyap . Hanya perasaan senang yang melanda hatiku . Tanpa terasa , mata ini merapat dan aku sudah berada di alam mimpi .

#Besok pagi
“Hoaammmm...”
Mataku masih menyipit , tak terasa aku tidur sejak kemarin sore hingga pukul 8 pagi ini . Untunglah hari ini hari Minggu , jadi aku tidak perlu kewalahan untuk pergi ke sekolah . Karena hari ini hari minggu, bagiku adalah hari yang tepat untuk bermalas-malasan . Hanya dengan sikat gigi dan cuci muka , aku segera turun untuk mencari makanan yang bisa digunakan untuk mengisi perut . Tidak biasa, aroma nasi goreng telah merebah ke seluruh ruangan . Biasanya jika pagi Mbok Miyem hanya menyediakan roti dan segelas susu . aroma nasi goreng tadi menggugah semangatku untuk segera tiba di ruang makan.
            Ketika aku menginjakkan langkah tepat di ruang makan, alangkah terkejutnya aku melihat Ayah dan Bunda telah duduk  berhadapan di meja makan.
“Ayah ... Bunda ... “ aku langsung menghampiri mereka dan memeluk mereka dengan pelukan hangat .
“Aku ga nyangka Ayah sama Bunda datang secepat ini .. “
“Ini semua kejutan untukmu nak..”
“Iya yah, terkejut kok aku . Hahahaha.. Oh iya kak Ivan mana? Dia harus tau kedatangan kalian “
“Gue disini kok . Lo kangen gue ya? Hahah” Kak Ivan tiba-tiba hadir dalam ruang makan .
“Enak aja , ngapain gue kangen lo. Ogah banget. Tuh Ayah Bunda disambut dongg!!”
“Hahahah”
“Yee.. kok lo Cuma ketawa sih kak? Nyebelin lo!”
“sudah .. Sudah .. Kalian ini bertengkar terus . Tadi Kak Ivan udah nyambut Bunda sama Ayah waktu kita dateng . Terus Kak Ivan izin buat mandi ..” Suara lembut bunda mencoba mendamaikan keadaan .
“Tuh denger !! Lagian elo cantik-cantik kebo! Jam 8 baru bangun . Pantes lo ga pernah punya pacar .. hahaha” Kak Ivan terus saja meledekku . Seakan air yang baru saja mendidih, aku ingin mengeluarkan semua uap yang telah menggumpal .
“Apaan sih lo! Ngomong dijaga kek! Biarin aja, gue emang ga mau pacaran . Emang elo playboy!!”
“Husst sudah..sudah .. Ini Ayah bisa stroke sehari disini . Ayah sama Bunda tuh mau liburan . Kalian hargai kami lah, setidaknya hari ini saja..” Ayah sudah tidak kuat lagi .
“Maaf yah , bun” Aku dan kak Ivan mengucapkan bersamaan dengan wajah tertunduk malu .
            Sebenarnya aku dan kak Ivan sudah terbiasa ribut kecil-kecilan seperti tadi . Namun sepertinya Ayah dan bunda memang benar-benar kelelahan sehingga tidak kuat untuk melihat pertengkaran kecil saja .

Hari-hari aku lalui seperti biasa. Namun jika dibandingkan hari yang pernah aku lewati , seminggu terakhir ini jauh lebih indah karena hadirnya Ayah dan bunda diantara aku dan Kak Ivan . Tepat seminggu Ayah dan bunda di jakarta , mereka mengajak aku dan kak Ivan untuk dinner di sebuah resto eksklusif di jakarta. Tidak heran, karena resto itu milik teman dekat Bunda .

#Malam hari di Resto
“Gisela, Ivan , Ayah dan Bunda ingin memberi tau kalian suatu hal penting “ Ayah memecah keheningan yang tercipta diantara kami . Jujur saja, aku sedang mengagumi resto yang disebut ‘eksklusif’ ini . Dan sepertinya Kak Ivan melakukan hal yang sama denganku .

“Emm mau ngasih tau apa yah?” tanyaku setelah sadar dari lamunanku.
“Ayah dan Bunda itu kan sudah semakin tua. Kondisi fisik kami sudah tidak seperti dulu , kami juga punya banyak kesibukan di Paris . Jadi Ayah ingin kalian berdua ikut kami pindah ke paris ...”
Seperti dunia ini berhenti berputar, waktu berhenti berjalan, pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Ayahku seperti tawaran antara hidup atau mati . Aku masih terhanyut akan lamunanku .
“Tapi Yah ..” Kak Ivan menyadarkanku dari lamunan mautku.
“Ivan kan disini tinggal skripsi . Lagian Ivan punya band di sini yah . Gak mungkin Ivan tinggalin semua ini begitu aja”
“Ivan, kalo kamu ingin merampungkan skripsimu dulu, silahkan . Ayah tidak melarang. Tapi setelah itu kamu bisa pindah ke paris. Ayah bisa menempatkanmu di posisi mapan di kantor Ayah , untuk band Ayah fikir itu semua tidak memiliki progres yang baik ..”
“Tapi yah, bandku itu udah mendarah daging  di tubuhku”
“Ivan percayalah.. Ayah tau yang terbaik untukmu”
Aku melihat ekspresi wajah kak Ivan. Ia terlihat diam , tapi diam yang menyimpan dendam. Aku mengerti kak Ivan ingin menentang, tapi ia tidak berdaya sekarang.

“Gisel, gimana dengan kamu? Sekolahmu kan tinggal 1 bulan lagi . Setelah ujian nasional, kamu bisa langsung terbang ke paris . Gimana? Oh iya , dulu kan kamu sangat ingin kuliah di Paris Sobonne University kan? Fakultas management di sana terkenal elok “
Ayah panjang lebar menjelaskan. Aku hanya terbengong. Memang segala yang diucapkan Ayah benar. Tapi aku harus berfikir lagi untuk berpindah ke paris .
“Akan aku fikirkan, yah”
“Bagus . . Ayah percaya kalian adalah anak-anak yang baik . Besok Ayah dan bunda akan kembali ke paris. Kalian harus jaga diri baik-baik. Ivan, temani adikmu belajar, bimbing dia , jaga dia ..”
“baik yah” jawab kak Ivan lesu . Aku tau apa yang dirasakan kak Ivan saat ini. Walau bagaimanapun , kak Ivan tetaplah kakak ku, aku mengerti kondisinya. Dan sepertinya acara makan malam kali ini telah rusak . Rusak dalam arti, suasana hati ku dan kak Ivan yang menjadi gundah gulana .

#Hari kepulangan Ayah bunda ke paris

“Ivan, gisel , kalian hati-hati ya di jakarta. Ayah tunggu kedatangan kalian di paris , nanti jika perlu sesuatu hubungi Ayah atau bunda saja . dan kamu gisel, Ayah akan urus masalah kuliahmu di paris”
Aku dan kak Ivan hanya tersenyum dan mengangguk . Kami tidak mengantar Ayah dan bunda ke bandara. Mereka berangkat malam , dan sebagai siswa yang mendekati ujian nasional, aku harus belajar . Lagipula sebentar lagi aku akan bertemu mereka lagi. Menetap bersama mereka .
            BMW silver yang membawa Ayah dan bunda telah berlalu , kini tinggalah aku , kak Ivan , dan mbok miyem yang ada di rumah . Tiba-tiba kak Ivan menepuk pundakku .
“Dek , gue mau ngomong sama lo . Tapi ngomong rahasia” suara kak Ivan berubah menjadi sebuah bisikan di kalimat kedua .
“yaudeh kak, ngomong aja ..”
“ngomong nya ga di sini dodol! Ayo ke kamar lo aja ..”
Menuruti apa yang diperintah kak Ivan adalah hal yang paling membuatku aman bagiku saat ini .

#di kamar gisela
“dek , jujur ya gimana perasaan lo ?” kak Ivan langsung menembakku  dengan pertanyaan ga jelas .
“Ha?? Maksud lo apaan sih?”
“Ya gimana perasaan lo tentang pindahan kita ke paris? Lagian perasaan gue lo belom ngomong iya kan ke Ayah? Tapi kok Ayah udah mau nyiapin kuliah lo di sana ya?”
Otakku kembali berputar kencang . Aku baru sadar bahwa aku harus memilih . Tapi aku belum juga melakukannya . Tapi tunggu, sepertinya Ayah yang sudah memilihkannya untukku . Ya, Ayah memilih aku untuk tinggal di paris . Ahh rasanya tidak adil ..

“Woy.. !! Malah bengong lo!! “ kak Ivan menyadarkanku dari lamunanku .
“Eh .. emm iya kak gue belom bilang iya. Gatau tuh Ayah. Lagian emang bisa ya gue milih engga? Kayanya udah gabisa. Lo tau kan Ayah gimana kalo udah punya keinginan”
“Hmm,,, iya juga sih . Tapi sel , lo fikir lagi deh. Gue harus bilang apa sama anak-anak T-back band? Terus emang si Sinta mau ngejalanin LDR an ?? Complicated banget nih”
“Ahh elo kak. Masih aja mikirin pacar. Di sana lo akan dapet bule-bule kak. Hahaha”
“Ck... Kok elo gitu ? Jadi lo udah pasrah nih?”
Aku tidak melontarkan kata-kata lagi . Aku hanya mengangkat kedua pundak dan alisku. Lalu merebahkan diri di kasur .
“udah kak, lo jalanin dulu aja. Itung-itung nyenengin Ayah bunda. Kan selama ini kita nyusahin mereka mulu . Udah , fine kan ? Nah , lo keluar gih dari kamar gue, gue ngantuk!!”
“gila lo!! Belajar sana! Gue kan suruh ngawasin lo belajar ! Belajar gih!”
“ah bodo amat gue ngantuk, bye”
Dengan mengabaikan kak Ivan , aku langsung memejamkan mata. Entah apa yang akan kak Ivan lakukan lagi, aku tak peduli .

            Hari-hari telah kulewati seperti biasa, dan membosankan . Tak terasa 4 hari kedepan aku akan menghadapi UN . Dengan bekal ilmu yang kudapat selama ini, serta doa dan dukungan dari orang-orang terdekatku aku yakin bisa mengerjakan . Aku bukanlah anak yang mudah bergaul, teman akrab saja tidak ada. Jadi jangan harap aku dapat contekan .

            UN telah terjamah, sesuai perjanjian dengan Ayah bunda sebulan lalu , akupun langsung terbang ke paris . Rasanya memang aneh. Aku merasa seperti boneka yang dilakonkan oleh orang lain, dan aku hanya mengikuti . Selama kurang lebih 8 jam berada di pesawat , akhirnya Orly International Airport terjamah .
            Walau sempat bingung karena ini kali pertama aku pergi ke paris , untunglah Ayah segera muncul dan memelukku hangat .
“akhirnya , kamu tiba juga di paris .. Bienvenue “
“Ayah , ini perjalanan yang sangat panjang, aku lelah . Tapi paris indah sekali . Merci untuk kesempatan ini yah “
De rien . Ayah bilang juga apa, kau tak akan menyesal. Ayo kita pulang . Kamu akan tinggal bersama Ayah dan bunda selama di paris “
“Baik yah..”

            Aku dan Ayah telah berada dalam sebuah mobil yang berjalan . Sebelum sampai di rumah, Ayah memang mengajakku sedikit mengagumi keindahan kota paris . Dari dalam mobil, aku dapat melihat jembatan yang berada di atas sungai seine , dan menara eifel yang menjulang tinggi ke langit . Rasanya benar kata Ayah , aku tidak akan menyesal .
            Tak lama kami pun tiba di rumah . Bunda menyambutku dengan kecupan di pipi kanan dan kiri . Bunda terlihat sangat senang menyambut kedatanganku . Setelah sedikit berbincang-bincang , bunda mengantarkanku ke kamar yang berada di lantai dua . bunda menginginkan aku untuk beristirahat .

            Entah apa yang sebenarnya terjadi, tetapi mengapa aku merasa sangat kesepian di sini . Dan tiba-tiba teringat akan satu sosok jail yang selama ini menghantuiku , Kak Ivan . Aku bergegas mencari ponselku dan menekan angka yang menunjukkan nomor kak Ivan dan menekan tulisan ‘call’ . Tak lama kemudian, terdengar suara kak Ivan menyambut di seberang sana .
“Hay cantik .. Udah sampe kan?”
“Udah kak. Baru aja , eh sepi juga ga ada lo ..”
“Hahah kangen nih ceritanya? Eh kangen-kangennya nanti aja ya , gue lagi sama sinta nih . Bye .”
“eh kak, bentar .. Eh .. Yahh nyebelin bener nih orang . Tau ah nyebelin lo”
            Seperti diabaikan , aku merasa sendiri dan akhirnya aku memutuskan untuk tidur .

            Waktu berjalan sangat cepat . Di Jakarta, pengumuman kelulusan sudah terlewati , dan aku yang bukan siswa bodoh mendapat nilai yang sangat baik . Untuk prodi IPS , aku mendapat peringkat kedua paralel di sekolahku . Dan dengan berbagai proses dan usaha aku berhasil lolos untuk masuk fakultas business management di Paris Sobonne University . Cukup puas, karena aku bisa memenuhi keinginan kedua orang tuaku . Singkat waktu , akupun mulai kuliah .
            Hari-hari ku lalui seperti biasa . Bangun pagi , kuliah , dan masih seperti dulu , aku tidak mudah bergaul . Sehingga aku tidak memiliki teman dekat , apalagi pacar . Namun setidaknya , aku memiliki tempat favorit yang bagiku bisa menjadi teman . Sungai Seine , ya sungai yang berada tidak jauh dari menara eifel itu memiliki daya tarik tersendiri bagiku . Apalagi ketika malam hari , lampu-lampu yang menghiasi pinggir sungai dan menerangi kota paris akan terlihat sangat indah . Ditambah dengan musisi jalanan yang selalu hadir sebagai penghibur. Sebenarnya musisi jalanan itu merupakan teman satu kampusku , tapi jujur aku tidak tau siapa nama mereka . Ya sekedar hafal wajah mereka saja .
            Sabtu . Hari ini aku merasa sangat lelah . Entah apa yang membuatku merasa sangat lelah , mungkin lagi-lagi rasa bosan . Malam itu rasanya aku sangat ingin pergi ke pinggir sungai seine . Dan mendengar merdunya alunan musik dari para musisi jalanan . Akupun langsung beranjak dari tempat tidurku , membuka lemari dan mengambil jaket kulit yang cukup tebal berwana ungu serta meraih syal motif abstrak yang tergantung di dalam lemari . Setelah menutup lemari , aku mencari dompet dan handphoneku yang mini dan memasukkannya ke saku celana. Aku memutuskan untuk minta diantar sopir keluargaku ke sana karena Ayah dan bunda mencemaskan kondisiku . Namun setelah tiba di sungai seine, aku meminta agar sopirku meninggalkanku sendiri, dengan jaminan aku akan memintanya menjemputku ketika aku ingin pulang .
            Seperti biasa , aku menyusuri pinggiran sungai seine dan berhenti di dekat para musisi jalanan berkumpul . Aku melihat mereka sedang bersiap-siap , akupun memutuskan untuk duduk di sebuah kursi yang berada tepat di pinggir sungai seine . Di sekitar sana ada sebuah stand yang menjual coklat panas . Aku tahu itu adalah stand yang nomaden  karena biasanya penjual coklat itu tidak ada . Karena merasa kedinginan, aku pun memesan satu cup coklat panas dan kembali duduk di kursi persinggahanku tadi . Ketika aku sedang hanyut dalam lamunan mengagumi keindahan menara eifel dari pinggir sungai , tiba-tiba alunan suara yang merdu memecah lamunanku . Tapi tunggu , ini tidak biasa . Sepertinya aku mengenal intro musik yang dimainkan . Sepertinya sangat akrab di telingaku. Ini.... Ini lagu indonesia .. Lalu aku mencoba tenang dan mendengarkan ..

Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku
Warna-warna indahmu
Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupku
Terlihat jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki ..

            Ini.. ini lagu kesukaanku . Tunggu , siapa yang melantunkannya ? Mengapa ia fasih benar berbahasa indonesia ? Dengan dasar penasaran , akupun segera menolehkan kepalaku ke sumber suara dan terlihat wajah berdarah asia, tepatnya indonesia milik seorang pria dengan postur tubuh yang hampir sempurna . Kulit putih bersih tapi masih terlihat macho , bukan putih banci . Terlihat tangan dan dada yang berotot . Tidak gemuk tapi juga tidak kurus . Jujur aku terpesona ..
            Tanpa sadar akupun terus memandangi pria tersebut hingga mungkin pria itu merasa risih dan datang menghampiriku . Barulah aku sadar dari arus lamunan yang menggeretku .
“Bonsoir..” Sapa pria itu .
“Bon..Bonsoir”
“Indonesia? Bisa?”
“Emm .. Iya , bisa ..”
“Sudah kuduga , dari wajah dan dari caramu ikut menyanyikan lagu tadi aku bisa memastikan kamu orang indonesia “ Celetuk pria itu sambil mendudukan tubuhnya di kursi panjang yang sedang ku duduki .
“Kuliah atau kerja di sini ?” tanya pria itu .
“Emm aku masih kuliah kok “ entah apa yang membuatku gerogi . Aku merasa ingin menjawab singkat-singkat pertanyaan pria tersebut .
“Waw, kita sama dong . Okey kenalin aku Aji . Mahasiswa di Paris Sobonne jurusan Seni . Spesifiknya seni musik .. How bout you?”
“Loh , kita satu kampus ? Aku Gisela , aku juga mahasiswi di sana , tapi ambil jurusan Bisnis manajemen ... “
“Waw , jodoh mungkin . Haha .. Kamu dari jakarta bukan?”
“Iya, kok tau ? “
“Nebak aja sih, tapi bener kan ? Tuh kita jodoh beneran “ Aji sangat mudah mengakrabkan sikon . Setelah basa basi singkat , kamipun ngobrol tentang banyak hal . Hingga tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 22.30 .
“Aji , maaf aku harus pulang . “ izinku kepada Aji takut Ia tersinggung .
“Oh okey . Kamu naik apa?”
“Aku akan minta jemput sopirku “ jawabku sambil mengeluarkan ponsel .
“Tunggu,, gimana kalo aku antar ? Itung-itung biaya kenalan. Aku bawa vespa kok . Tapi santai , vespa di sini gak brutak kaya di jakarta . “
“Hahahah kamu lucu banget , yaudah lah aku terima tawaranmu” Tiba-tiba otakku berputar lima kali lebih cpat . Apa yang membuatku langsung tertarik menerima ajakannya padahal kami baru kenal. Ini gila, ah entahlah . Yang penting aku sampai di rumah dengan selamat .

            Keesokkan harinya . Pagi-pagi aku sudah bangun , dan turun menuju ruang makan untuk sarapan walau hanya sepotong roti dan segelas susu . Baru saja aku ingin duduk di meja makan . Ayah langsung melarangku .
“Hey anak gadis Ayah , kamu mau ngapain ?”
“Loh , ya mau sarapan dong yah . Aku kan juga butuh makan ..”
“Kamu masih sempat makan padahal di luar pacar kamu sudah nunggu ?”
Pacar?? Pacar apa ?? Aku bingung setengah mati . Aku menatap wajah bunda , hanya sebuah senyuman yang bisa dibilang tawa yang ada pada wajah bunda .
“Itu di depan , pacar kamu sudah nunggu . Kamu punya pacar ya sekarang? Hati-hati , jangan sampai kuliahmu terganggu ..”
            Aku makin tidak paham apa yang dikatakan Ayah . Akhirnya aku memutuskan untuk keluar , melihat siapa yang menunggu , dan setelah aku melangkahkan kakiku satu langkah dari pintu utama rumah , aku melihat sesosok pria yang duduk diatas vespa berwarna biru yang semalam aku tumpangi .
“Ajii???”
“Eh , iya pagi gisel .. maaf aku mendadak gini “ Aji langsung tersadar dari lamunannya setelah mendengar suaraku meneriakkkan namanya .
“Iyaa gapapa . Kok kamu ke sini?”
“Ga boleh ya? Niatku mau jemput kamu sih kan kita sekampus “ wajah Aji menjawab dengan ekspresi lemas .
“Eh boleh kok, boleh banget. Tapi aku takut ngerepotin . Yaudah deh yuk berangkat .. Eh bentar .. Yah.. Bun .. Aku berangkat yaa” aku berteriak pamit di akhir kalimatku .
 Kamipun berangkat bersama ke kampus . Jujur sejak pertama bertemu aku merasa ada perasaan aneh yang hinggap di diriku . Betah karena nyaman bersama Aji . Itu lah yang aku rasakan . Tapi entahlah .. Aku sedang tidak ingin pusing karena hal itu . Hari ini aku akan jauh lebih pusing karena aku akan menghadapi ujian lisan .
            Setibanya di kampus , Aji mengajakku bertemu dengan teman-temannya . Mungkin karena semalam aku bercerita bahwa aku bukan tipe orang yang mudah bergaul , dan itu membuat Aji iba mendengarnya hingga sekarang Ia mengenalkanku dengan teman-temannya . Banyak sekali teman yang dikenalkan denganku . Tapi tidak ada satupun yang berkesan . Karena semuanya sama . Terakhir , Aji mengenalkanku dengan Wiliam . Wiliam yang ‘agak’ membekas karena Ia satu-satunya anak yang bisa bebahasa Indonesia walaupun sebenarnya Ia berkebangsaan Itali . Tapi Wiliam memiliki Ibu yang asli indonesia . Atau dengan kata lain Wiliam adalah blasteran . Itu yang membuatku betah berbincang dengan mereka berdua . Kami bertiga berbincang-bincang dan menjadi akrab satu sama lain .
            Berawal karena niat tulus nan baik Aji, saat ini Aku , Aji dan Wiliam menjadi tiga serangkai yang selalu bersama kemanapun kami pergi . Walau aku satu-satunya yang mengambil jurusan berbeda di Sobonne , itu tidak menjadi halangan . Namun tentang perasaanku .. Setelah aku bercerita banyak dengan Kak Ivan , aku bercerita tentang rasa nyamanku saat bersamanya , rasa ingin selalu melihatnya gembira , dan kebiasaanku yang selalu bersamanya walau sebenarnya ada Wiliam diantara kami ,Kak Ivan mengatakan bahwa perasaan yang kurasakan ialah cinta . Hah konyol mendengarnya . Tapi sedikit banyak aku percaya akan ucapan Kak Ivan  . Ternyata cinta itu rumit .
            Satu semester telah kulewati , rasanya aku ingin liburan ke Jakarta . Ayah dan Bunda pun mengizinkan walau mereka tak bisa ikut . Mungkin sebenarnya mereka kecewa dengan Kak Ivan . Janji Kak Ivan untuk pindah ke Paris tidak pernah ditepati . Namun aku bisa mengerti kondisi Kak Ivan . Akupun berpamitan kepada Aji dan Wiliam . Bingung melandaku ketika aku berpamitan dengan Aji dan Wiliam yang ikut mengantarku ke Bandara. Tiba-tiba Aji menangis dan langsung memelukku . Disela tangis dan pelukan itu , Aji membisikkan sesuatu .
“Je t’aime .. Sebagai temanku..”
Rasanya seperti tertusuk panah berbahan dasar besi , dengan diameter 3 cm dan ujung yang sangat runcing melebihi runcingnya pensil untuk ujian . Sakit, jadi selama ini Aji benar-benar menganggapku hanya teman ? HANYA TEMAN ? Oke, mungkin ini jawaban , atau pernyataan bahwa aku harus berhenti mencintai Aji .  Tanpa banyak bicara , aku segera pergi , lenyap dari hadapan mereka .

            Setelah mengalami perjalanan yang cukup panjang, akhirnya aku tiba di Jakarta . Dengan dijemput Kak Ivan yang sedang bersama Sinta , akupun pulang dari bandara menuju ke rumah . Di tengah perjalanan , Kak Ivan menawariku untuk ikut liburan Kak Ivan dan Sinta ke sebuah Villa di puncak , Bogor .Kak Ivan mengaku lelah dengan padatnya jadwal show band miliknya . Akupun menyetujui , walau aku tau aku harus bertemu dengan Kak Danil , Kak Guntur dan Kak Adit . Tapi setidaknya ada Sinta dan pacar-pacar anak band lainnya yang bisa menemaniku .
            Singkat cerita, setelah dua hari beristirahat di rumah , aku dan keluarga besar T-back band berangkat ke puncak. Walau jalan macet , tapi itu semua terbayarkan setelah kami tiba di Villa . Pemandangan dan fasilitas Villa yang disewa Kak Ivan sungguh menakjubkan . Interior Villa tersebut klasik tapi simple , tidak jauh dari Villa terdapat kebun teh yang sangat luas . Kebun teh itu bisa terlihat dari Villa . Sungguh indah . Sejenak, aku bisa melupakan segala kepenatanku selama di Paris . Yah , dan setidaknya aku bisa  melupakan kebiasaanku bersama Aji walau aku yakin hanya mempan untuk sementara .
            Selama di puncak , aku selalu merasakan hal-hal yang menggembirakan , melakukan aktivitas yang tidak membosankan , dan selalu saja ada tawa diantara kami semua . Kami berencana akan berada di sini selama seminggu . Hari Minggu lalu kami tiba di sini . Dan sekarang sudah hari Rabu . Sepertinya singkat sekali . Aku tidak percaya ini terasa cepat sekali . Sampai aku benar benar melupakan segala hal yang ada di Paris . Tunggu , Aku bahkan melupakan kedua orang tuaku . Tapi sepertinya mereka juga sangat sibuk , karena saat aku telfon untuk mengatakan bahwa aku telah tiba di Jakarta yang menjawab telfonku adalah monsieur Lahzar , sopir pribadi Ayah . Ia mengatakan bahwa Ayah dan bunda tidak di rumah . Ah biarlah, aku ingin menjernihkan otakku yang kotor dan lelah.
            Hari Rabu telah berlalu , hari berganti menjadi Kamis . Kamis pagi aku dikejutkan oleh sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselku .
                        ‘Gisel , km dan Kak Ivan harus pulang sekarang ‘
            Setelah membaca pesan singkat dari Bunda aku segera memberi tau Kak Ivan dan kamipun memutuskan untuk pulang . Tanpa diminta , teman-teman kak Ivan juga ikut pulang .  Awalnya aku berfikir Bunda dan Ayah akan marah besar kepada Kak Ivan . Kak Ivan pun memikirkan hal yang sama denganku . Namun kami mencoba tetap tenang .
            Alangkah terkejutnya ketika aku tiba di rumah . Rumah kami sangat ramai . Aku  melihat banyak rangkaian bunga dari berbagai perusahaan ternama yang bertuliskan ‘TURUT BERDUKA CITA’ . Tunggu, jangan bilang jika... Aku segera turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah. Yang pertama kali aku lihat adalah Bunda sedang terduduk lemah sambil menangis dilendetan Tante Mira dan di depan Bunda terlihat ada sebuah peti . Aku Langsung mendekati bunda disusul dengan Kak Ivan.
“Bunda.. Ini kenapa? Ini Siapa yang meninggal?”
“Gisel, Ivan , maaf bunda dan Ayah telah menutupi segalanya dari kalian. Ayah sudah mengidap penyakit jantung koroner . Dan itulah mengapa Ayah ingin kalian tinggal bersama kami di Paris . Ia ingin bersama kalian di saat terakhirnya .. Kamu lihat kan Gisel , Ayahmu lebih sering berada di kamar . Itu karena Ayah tidak ingin kamu tau penyakitnya” Jelas bunda panjang lebar . Namun aku masih tidak percaya . Aku hanya bisa menangis dan menangis , aku melihat Kak Ivan yang menatap peti jenazah dan Ia langsung berlari menuju kamarnya . Aku tau apa yang dirasakan Kak Ivan , penyesalan .
            Jenazah Ayah sudah dimakamkan , para pelayat sudah meninggalkan kediaman kami kecuali keluarga besar T-back band . Sejak kemarin , mereka bermalam di rumahku . Kami semua tidak percaya akan kematian Ayah . Namun itulah yang terjadi . Kami semua saling menenangkan satu sama lain . Disela-sela kesedihan kami , tiba-tiba ponsel Kak Danil berbunyi . Ia mengangkat telfon dan ekspresi wajahnya berubah drastis seketika .
“adikku .. Adikku yang selama ini kuliah di luar negeri karna keegoisanku , , meniggal..”
Kak Danil langsung menjelaskan kepada kami yang memasang wajah penasaran . Oh Tuhan .. Cobaan macam apa yang kau berikan kepada kami semua . Tapi , aku baru tau kalau Kak Danil memiliki adik . Kak Danilpun menceritakan semuanya .
            Kak Danil memiliki seorang adik yang sangat mencintai dunia mesin . Namun karena musik telah mendarah daging di keluarga besar Kak Danil , Kak Danil tidak ingin adiknya melenceng dari takdir yang diciptakan alm Papa Kak Danil . Kak Danil memaksa adiknya untuk menggulati dunia musik . Karena lelah melihat perdebatan anak-anaknya , Mama Kak Danil menyekolahkan adik Kak Danil di luar negeri , namun Kak Danil cukup kecewa sehingga Ia tidak ingin mengetahui dimana adiknya sekolah . Kak Danil juga baru tau bahwa adiknya mengidap leukimia . Wawan , begitulah Kak Danil memanggil adiknya . Setelah mendengar cerita panjang lebar, kami semua bergegas ke rumah Kak Danil dan menunggu jenazah datang . Aku tidak banyak bicara. Cukup pilu hati ini , mengapa orang yang aku sayangi pergi secepat ini, Ayah ..
            Terlihat mobil sedan dan minibus datang . Dari minibus itu yang pertama kali keluar adalah ... Wiliam . Tunggu, mengapa Wiliam ? Apa ini saudara dari ibunya ? Atau apa ?
Aku langsung menghampiri Wiliam, dan Ia juga keheranan melihatku , namun belum sempat aku mengucapkan sepatah katapun , Ia memelukku dan meneteskan air mata .
“Wiliam , ada apa? Jelaskan !!”
“Kau akan tau sendiri..” Wiliam menoleh ke arah jenazah yang keluar dari minibus itu dan betapa terkejutnya ketika aku meihat wajah jenazah itu . AJI ???
Jadi Wawan adalah Aji ?? Setelah mengalami kebingungan yang panjang , terjawablah sgalanya . Nama Aji adalah Aji Setiawan dan nama kecilnya Wawan . Kenapa harus Aji ?? Kenapa semua orang yang ku sayangi pergi ?? Tidak adil .. Tuhan tidak adil .. Aku hanya bisa menangis dan menangis ..
            Selepas pemakaman usai , Wiliam masih merangkulku ..
“Kenapa Tuhan gak adil .. Ia mengambil semua orang yang kusayang ..” Aku menggerutu dalam rangkulan Wiliam.
“Gisel .. mungkin bagimu tuhan mengambil orang yang kamu sayangi . Tapi percayalah , tuhan masih menyisakan orang yang menyayangi kamu .. Aku tau kamu menyayangi Aji . Begitu pula Aji . Namun seiring waktu , Aku jauh lebih menyayangimu daripada Aji .. Aji yang mengatakan semua itu padaku . Ia juga menitipkanmu untuk kujaga , karena Ia tau hidupnya tidak lama lagi ..”
“Jadi kamu juga tau tentang penyakit aji ?? Kenapa kamu nggak ngasih tau aku ?”
“Aji tidak ingin kamu menyesal telah mencintainya . Tapi percayalah , Di sini, ada aku yang akan menjagamu ..”

Seutas senyum terbentuk dari bibirku . Aji , aku tidak pernah menyesal menyayangimu .. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar