HANYA SAMPAI SPION
Terik Sang Surya hampir membakar penghuni alam semesta , tak
terkecuali aku . Rasanya aku tidak ingin
berada di luar sebuah bangunan siang ini . Satu cup jus mangga telah habis
selama kurang lebih 10 menit aku duduk di halte menunggu bus , dan jus tersebut
serasa hanya lewat kerongkonganku tanpa ada yang singgah sedikitpun . Rasanya
aku ingin membeli jus lagi untuk yang kedua kalinya . Namun ternyata setelah
aku mengintip uang di saku bajuku , hasrat untuk membeli jus tersebut punah
seketika. Sisa uang di saku bajuku hanya cukup untuk membayar ongkos naik bus .
Seketika aku merasa dewi fortuna berpihak kepadaku . Tak lama kemudian sebuah bus kota yang telah menjadi antar jemput setiaku selama aku bersekolah di SMA telah datang . Setidaknya ada harapan agar aku cepat sampai di rumah dan segera bersemedi di depan kulkas . Mungkin memang keberuntungan tidak selalu berpihak kepadaku , bus kota yang ku tumpangi sangat penuh . Sehingga aku harus berdiri dan berdesak-desakkan di dalam bus .
Seketika aku merasa dewi fortuna berpihak kepadaku . Tak lama kemudian sebuah bus kota yang telah menjadi antar jemput setiaku selama aku bersekolah di SMA telah datang . Setidaknya ada harapan agar aku cepat sampai di rumah dan segera bersemedi di depan kulkas . Mungkin memang keberuntungan tidak selalu berpihak kepadaku , bus kota yang ku tumpangi sangat penuh . Sehingga aku harus berdiri dan berdesak-desakkan di dalam bus .
Sekitar 50 menit kemudian , aku
berhasil mewujudkan cita-citaku yakni aku dapat bersemedi di depan kulkas
. Perjalanan dari sekolah hingga aku
sampai di rumah memang cukup lama karena aku harus naik bus dengan oper
sebanyak dua kali . Terkadang aku merasa kesal karena sebagian besar waktuku
habis untuk melakukan perjalanan . Namun apa daya , keinginanku untuk
menggunakan kendaraan pribadi ke sekolah ditentang tegas oleh kedua orang tuaku
.
Hari berikutnya , aku menjalankan
kegiatanku seperti biasa . Aku bangun sangat pagi, mandi , sarapan , lalu
berangkat ke sekolah . Sejak diterima di SMA Cakrawala yang merupakan sekolah
favorit di Jakarta empat bulan lalu , aku memang selalu bangun paling pagi
diantara seluruh anggota keluargaku . Tapi aku cukup bangga, karena aku bisa
mengubah image seorang Alinda Adya Wiratmaja dari anak yang dikenal paling
malas dibanding kedua kakak perempuanku menjadi seorang anak yang paling rajin
. Keluargaku selalu sarapan bersama setiap pagi. Walau setelah itu kami semua
terpisah . Ayah yang bergelar tulang punggung keluarga sudah jelas pergi kerja
setiap harinya . Ibu yang memiliki sebuah butik yang berisi hasil karyanya
sendiri juga selalu pergi ke butik setiap hari . Kak Nisa belum lama diterima
kerja di sebuah perusahaan ternama di Jakarta . Dan Kak Mukti masih kuliah dan
bergulat dengan atom, ya karena Ia mengambil jurusan teknik kimia . Dilihat
dari segi ekonomi , memang aku sangat beruntung karena aku merasa sangat lebih
dari cukup . Namun terkadang aku merasa kesepian , karena sangat jarang aku
dapat berkumpul dengan seluruh anggota keluargaku kecuali pada pagi hari ketika
sarapan .
Hari ini aku pergi ke sekolah dengan
rasa semangat , aku diantar oleh ayah karena sekolahku searah dengan kantor
ayah .
“Yah
, makasih ya . Aku sekolah dulu .. Nanti jemput bisa kan ?” pintaku kepada Ayah
setelah aku turun dari mobil .
“Duh
, Alin kamu kan tau ayah sibuk banget . Kamu naik bus seperti biasanya saja ya”
“Hah?
Naik bus lagi ? Ayah ... Naik bus itu panas , desak-desakan , bau . Ayah nggak kasihan sama aku ? “
“Mau
gimana lagi Lin, maafin Ayah ya . Sudah ayah berangkat dulu . Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam..”
Tiba-tiba aku merasa semangat yang
telah aku dapatkan tadi pagi hilang seketika . Aku terus melangkah menuju ruang
kelasku yang berada di sudut belakang sekolah . Kelas X.11 yang menjadi rumah
keduaku selama empat bulan belakangan ini memang terletak paling pojok alias
paling jauh , namun aku selalu merasa bahagia ketika aku sudah berasa di dalam
ruangan berukuran 8 x 8 meter tersebut . Kedatanganku pagi ini disambut oleh
Rika , sahabat pertama yang kumiliki selama berada di SMA sekaligus teman
sebangkuku .
“Hay
Lin.. Kamu kenapa kok bete gitu mukanya ?” Rika langsung menembakku dengan
pertanyaan yang langsung to the point .
“Iya
Rik, aku lagi bete . Masa tadi aku minta dijemput sama ayahku nanti pas waktu
pulang sekolah ayahku nggak mau . Aku malah disuruh naik bus kota yang kamu tau
kan panasnya gimana ? Nyebelin banget gak tuh” Jawabku dengan nada emosi .
“Ya
ampun Lin, aku kira kenapa . Kamu kan udah biasa naik bus . Biasa aja kali ..”
“Justru
itu, aku bosan naik bus terus . Capek Rik ,, capek ..”
“Ahh
udah udah , Cuma kayak gitu . Udah jangan bete lagi . Habis ini pelajarannya Bu
Ami loh . Masa bete mu mau jadi bete kuadrat ?”
“Hahahaha
bisa saja kamu. Eh aku belum ngerjain pr kimia bu Ami . Aku nyontek dong “
“Kamu
kebiasaan ..”
Dua jam pelajaran kimia telah
terlewati , satu jam pelajaran matematikapun telah dapat kami lalui . Saatnya
mengistirahatkan otak dengan memborong makanan di kantin . Aku dan Rika pergi
ke kantin berdua . Kami langsung memesan dua piring siomay , dua gelas es jeruk
, serta satu piring tahu bledos . Ya itu semua memang makanan favorit kami .
Setiap hari kami selalu bergantian dalam membayar makanan yang kami makanan. Jadi
jika hari ini aku yang membayar, besok gantian Rika yang membayar . Dan
kebetulan hari ini jatahku yang membayar .
“Bentar
ya Rik, aku bayar dulu ..”
“okedeh”
Aku langsung pergi ke kasir kantin
untuk membayar .
“Berapa
mbak , meja nomor 3 ?” tanyaku kepada sang kasir .
“Dua
puluh ribu mbak”
“Oh
.. Oke bentar “
Aku berniat untuk mengambil dompetku
yang seingatku telah aku masukkan ke dalam kantong rokku. Namun naas , aku
tidak menemukan dompetku di sana . Aku melirik ke belakang, antrian pembayar
sangat banyak . Aku akan diguyur malu habis-habisan jika aku berkata aku tidak
bawa dompet. Rika yang duduk cukup jauh dari kasir tidak mungkin bisa
membantuku karena tidak mungkin dia tau. Diluar dugaan, seorang anak laki-laki
yang tidak ku kenali tiba-tiba datang dan membayarkan dua puluh ribu yang
seharusnya menjadi tanggung jawabku , seolah-olah dia tau apa yang aku rasakan
. Dengan sangat cool , dia membayarkan dua puluh ribu dan berkata
“Hari
ini saya ulang taun, jadi saya yang bayar apa yang dia makan”
Lalu
laki-laki tersebut langsung pergi .
Aku masih bengong di tempat . Aku
heran , apa tujuan laki-laki tersebut membayarkan makananku ? Apa dia ulang taun
? Tapi aku tidak kenal . Ah cukup . Saatnya aku tersadar dari lamunanku dan
segera menceritakan semuanya kepada Rika . Setelah aku bercerita panjang lebar
kepada Rika , dia langsung tertawa terbahak-bahak .
“Ih
kamu kok malah ketawa, kamu nggak bingung atau gimana gitu?”
“Hahahaha
, Lin cerita kamu gokil sumpah. Cowok itu bagaikan malaikat yang dikirim tuhan
untuk mengangkatmu dari jurang kemaluan” Jawab Rika dengan gaya meledeknya .
“Aaahhh
kamu apa-apaan sih . Nggak lucu tau . Udah ah balik ke kelas yuk”
Bel panjang sebanyak empat kali
telah dikumandangkan . Itu artinya waktu untuk pulang sudah tiba , dan lagi aku
harus merasakan sengsaranya naik bus . Namun hari ini dewi fortuna berpihak
kepadaku jauh lebih cepat karena begitu aku keluar dari gerbang sekolah ,
sebuah bus kota tepat sedang berhenti mencari mangsa anak sekolah yang baru
saja keluar gerbang . Dan yang lebih menyenangkan , hari ini aku mendapati
kursi yang kosong untuk kududuki . Tak lama kemudian, sopir bus yang aku
tumpangi langsung tancap gas dengan kecepatan yang lumayan tinggi . Di tengah
perjalanan, tiba-tiba bus yang aku tumpangi mengerem mendadak dan sang sopir
menekan klakson panjang . Sudah dapat ditebak bahwa bus ini hampir menabrak
seseorang . Setelah aku melihat keluar kaca bus , ternyata benar . Bus yang aku
tumpangi hampir menabrak seorang lelaki anak SMA yang mengandarai sepeda motor , dan yang membuatku terkejut adalah lelaki
pengendara sepeda motor tersebut adalah siswa dari SMA yang sama denganku,
karena seragam yang dikenakannya sama seperti seragam yang aku kenakan . Namun
aku tidak dapat mengenali wajahnya . Karena wajahnya tertutup rapat oleh helm
dan masker yang dikenakannya .
Tidak seperti biasanya , malam ini
seluruh anggota keluargaku dapat berkumpul untuk makan malam bersama . Aku
merasa malam ini sangat indah . Malam ini adalah moment langka bagiku . Dan
yang membuat malam ini lebih sempurna adalah Ayah dan Ibu telah mengizinkanku
untuk mengendarai sepeda motor sendiri ke sekolah . Tadi siang Ayah mencarikan
SIM dengan cara yang memang melanggar hukum untukku . Namun bagiku semua itu
tidak masalah . Yang penting aku bisa mengendarai sepeda motor sendiri ke
sekolah . Jadi aku tidak perlu merasakan desak-desakan naik bus lagi . Ayah
bilang , bahwa besok aku sudah bisa mengendarai motor sendiri ke sekolah .
Rasanya aku ingin cepat-cepat tidur dan cepat-cepat bangun di esok pagi. Aku
sudah tidak sabar untuk merasakan kebebasan mengendarai motor sendiri ke
sekolah .
Waktu masih menunjukkan pukul 05.30
WIB . Namun aku sudah rapih dengan seragam hem putih lengan panjang dan rok
kotak-kotak berwarna abu-abu , serta rambut lurusku yang telah tersusun rapih
dalam satu gulung ikat rambut . Pagi ini aku merasa sangat bersemangat pergi ke
sekolah . Ayah Ibu serta kedua Kakakku terlihat keheranan melihat aku lima kali
lebih rajin dari biasanya . Tapi biarlah , mereka tidak tau apa yang aku
rasakan . Kebahagiaan yang tidak berujung .
Hidupku terasa sangat lengkap hari
ini . Aku benar-benar merasakan hiruk-pikuk kota Jakarta sendiri ,
melintasi jalan raya sendiri . Aku belum
berani mengendarai sepeda motor ku dengan kecepatan tinggi karena aku belum
menguasai medan yang kulalui . Akan tetapi segala kebahagiaanku lenyap seketika
ketika tiba-tiba seorang laki-laki berseragam sama sepertiku dengan motor yang
cukup besar menyalip dengan diawali permainan gas motornya dan hampir
menyerempet motorku . Sudah jelas , semua itu membuatku kaget dan seakan
membangunkanku dari lamunan indahku . Setelah aku perhatikan orang tersebut ,
ternyata orang yang hampir menyerempetku tadi adalah orang yang hampir ditabrak
oleh bus yang aku tumpangi kemarin . Dapat disimpulkan bahwa orang tersebut
memang mengendarai motor ugal-ugalan .
Tak lama kemudian , aku tiba di
sekolah . Sesampainya di kelas , seperti biasa aku menceritakan seluruh
peristiwa yang telah aku lalui sejak aku berpisah dengan Rika , sampai aku
bertemu lagi dengan nya . Rika pun memberikan respon seperti biasa . Yakni meledek
. Jujur aku merasa sedikit kesal , karena aku sedang berbicara serius mengenai
pria misterius yang telah aku lihat sebanyak dua kali tersebut . Tapi aku telah
memahami karakter Rika . Jadi aku bisa menahan amarahku .
Bel panjang sebanyak tiga kali telah
terdengar , artinya waktu istirahat telah tiba . Rika pergi ke kantin lebih
dulu sedangkan aku ingin pergi ke toilet terlebih dulu . Setelah dari toilet,
aku langsung berjalan menuju kantin . Resiko berjalan dari toilet ke kantin ialah
aku harus melewati ruang kelas XI IPA . Jujur saja aku masih belum PD harus
berjalan sendirian melewati lorong kelas XI . Selama melewati lorong kelas XI ,
aku terus menundukkan kepala , aku tidak berani melihat wajah kakak kelasku .
Dan aku tidak mau kakak kelasku hafal dengan wajahku . Namun sial , tiba-tiba
aku menabrak seorang laki-laki yang sepertinya adalah anak kelas XI . Spontan
aku langsung minta maaf . Ketika aku melihat wajahnya , ternyata laki-laki
tersebut adalah orang yang sama dengan orang yang membayar makanku di kantin
kemarin . Namun belum sempat aku berbicara lebih banyak, laki-laki tersebut
dengan cepat berjalan meninggalkanku . Menurut Rika , laki-laki tersebut adalah
salah satu penggemar rahasiaku . Tapi itu semua terdengar sangat konyol .
Keesokan harinya , aku masih
mengendarai sepeda motor sendiri ke sekolah . Baru beberapa meter aku
meninggalkan gerbang perumahan tempat tinggalku , aku melihat ke arah spion
motor sebelah kanan . Aku melihat laki-laki yang kemarin telah merusak pagi
indahku . Seolah tidak ingin Ia merusak pagiku hari ini, aku langsung tancap
gas lebih kencang . Dan seolah tidak ingin kalah pula , laki-laki tersebut
turut tancap gas motornya lebih kencang lagi . Terjadilah balapan yang tidak
terlihat antara aku dan laki-laki tersebut . Yah walau akhirnya aku berada jauh
di belakangnya . Setibanya di parkiran sekolah , aku menyelidiki siapa
laki-laki bermotor besar tersebut . Ternyata Ia adalah orang yang sama dengan
orang yang beberapa hari lalu membayar makananku di kantin , dan aku menabraknya
di lorong kelas XI .
Konsentrasiku tidak berada di kelas
selama pelajaran . Aku masih bingung dengan sosok laki-laki tersebut . Kali ini
aku sengaja tidak menceritakan semuanya kepada Rika . Karena aku termakan
omongan Rika , apakah mungkin jika laki-laki tersebut adalah penggemar
rahasiaku ? Entahlah . Aku hanya meminta bantuan Rika untuk mencari informasi
tentang anak tersebut . Dan cukup memuaskan , Rika dapat mengetaui identitas
anak laki-laki tersebut . Ia bernama Rio dan merupakan penghuni kelas XI IPA 2
.
Entah mengapa , aku merasa bahwa Kak
Rio memiliki rasa yang istimewa kepadaku . Saat ini , setiap berangkat dan
pulang sekolah aku selalu melirik ke arah spionku demi melihatnya . Memang
kebetulan rumah ku dan rumah Kak Rio searah . Walau begitu aku belum tau di
mana rumah Kak Rio . Karena rumahnya lebih jauh dari rumahku . Pagi ini aku
berangkat seperti biasa . Dan seperti biasa pula , aku sering melirik ke arah
spionku karena Kak Rio telah berada di belakangku . Dan seolah Ia tau bahwa aku
memperhatikannya , Kak Rio langsung menyalakan lampu tembaknya ke arahku .
Semenjak aku tau bahwa Kak Rio adalah sosok yang sering aku temui dalam keadaan
tidak sengaja , aku menjadi kepedean . Aku merasa bahwa Kak Rio memiliki rasa
suka kepadaku sehingga aku pun memiliki rasa suka kepadanya . Namun tidak
mungkin bagiku mengatakan semua ini lebih dulu kepada Kak Rio . Perasaan gengsi
masih merasuk dalam tulang rusukku .
Semakin lama aku semakin yakin bahwa
Kak Rio suka kepadaku , karena dia selalu memberi sinyal-sinyal yang
menunjukkan bahwa dia suka kepadaku . Seperti mengklaksonku ketika di jalan Ia
akan menyalipku , menyapaku ketika kami bertemu di kantin , dan lainnya . Tapi
di sisi lain aku juga merasa geregetan karena Ia tidak segera mengatakan perasaannya
kepadaku . Hingga akhirnya , aku menceritakan semuanya kepada Rika . Tidak
dengan respon seperti biasanya yang cenderung meledek , kali ini Rika hanya
terdiam bisu mendengarkan ceritaku . Responnya seperti seolah-olah menahan
sesuatu yang ingin diucapkan . Seperti menyembunyikan sesuatu dariku . Akupun
tidak ingin memikirkan hal tersebut terlalu jauh . Aku percaya dengan sahabatku
. Mungkin memang Rika sedang kurang bersemangat hari ini.
Keesokan harinya , aku berangkat
sekolah seperti biasa . Di tengah perjalanan lagi-lagi aku melihat Kak Rio dari
spion . Namun entah mengapa , kali ini terasa berbeda . Hingga aku terus
memandangi spionku dengan frekuensi yang lebih banyak dari biasanya . Sial ,
seluruh kebahagiaan itu menghasilkan petaka . Aku yang mengendarai sepeda
motorku dengan konsentrasi yang sangat minim karena fokusku hampir habis untuk
memandangi Kak Rio dari spion , menabrak
sebuah mobil yang menurutku mengerem mendadak . Sontak aku dan sepeda motorku
langsung jatuh terlempar ke tanah . Aku tidak bisa melihat dengan jelas lagi .
Semua terlihat buyar . Tapi satu yang dapat aku pastikan . Bahwa Kak Rio
langsung menghentikan laju sepeda motornya dan bergegas menolongku. Setelah itu
aku langsung pingsan tak sadarkan diri .
Entah berapa lama aku pingsan , tapi
yang jelas ketika mataku telah sanggup membuka sedikit demi sedikit dan aku
melihat sekelilingku , aku telah berada di salah satu ruang rawat rumah sakit .
Dengan infus yang menempel di tanganku dan juga selang oksigen yang terpasang
di dalam lubang hidungku .Satu-satunya orang yang ada di dekatku saat itu
adalah ibuku . Begitu melihatku tersadar, ibu langsung tersenyum bahagia dan
memelukku dengan lembut . Ibu langsung memberi tau berita baik ini kepada para kakak
dan ayah ku . Setelah puas memberi kabar kepada orang lain , Ibu pun bercerita
kepadaku . Menurut perkataan ibu pasca kecelakaan itu dua hari aku tidak
sadarkan diri . Seluruh anggota keluargaku merasa khawatir . Dan Kak Rio, orang
yang menolongku pada saat peristiwa kecelakaan itu terjadi mungkin juga
merasakan hal yang sama dengan semua orang yang ada di sekitarku .
Energiku belum pulih seutuhnya . Aku
masih merasakan lemas yang amat sangat berlebihan . Walau selang oksigen telah
dilepaskan dari hidungku, namun jarum infus yang disambungkan dengan selang
serta cairan infus itu masih menancap di punggung tangan kiri ku . Sudah dua
hari sejak aku sadarkan diri aku hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur
yang lumayan nyaman itu.
Hari ini adalah hari ketiga pasca
aku sadarkan diri . Namun rasanya belum ada perubahan yang berarti . Seluruh
badanku masih terasa sakit . Dan hal yang membuat semua ini lebih tidak berarti
adalah , Kak Rio belum pernah sedetikpun menginjakkan kaki di rumah sakit
tempatku dirawat untuk menjengukku . Aku mencoba berspekulasi , apakah Ia takut
dengan kedua orang tuaku karena Ia yang membawaku ke rumah sakit ? Atau memang
Ia tidak peduli denganku ? Entahlah . Ketika aku sedang memikirkan berbagai
alasan mengapa Kak Rio tidak menjengukku , tepat ketika jam pulang sekolah,
Rika yang menjadi sahabatku selama ini datang menjengukku . Setidaknya Rika
dapat menghapuskan beberapa kesedihanku .
Setelah bercerita panjang lebar,
akhirnya aku bisa memahami alasan mengapa tidak ada seorangpun yang datang
menjengukku . Ternyata di sekolah sedang diadakan tes seleksi untuk mendapatkan
beasiswa ke luar negeri dan seluruh siswa wajib untuk mengikuti tes tersebut .
Dan pengecualian untuk siswa yang sedang sakit sepertiku . Dan tes tersebut
berakhir hari ini . Karena sekolahku memang sekolah yang berbasis IT , untuk
mengolah data hasil tes tidak dibutuhkan waktu yang lama. Seketika pengumuman
siswa yang lolos langsung diumumkan pada hari itu juga. Dan Kak Rio berhasil
lolos tahap pertama . Sehingga Ia masih harus mengikuti tes-tes selanjutnya.
Tapi siapa yang menduga bahwa ketika
sore tiba dan aku baru saja membuka mata setelah tidur yang cukup lama ,
dihadapanku telah ada beberapa orang yang kelihatannya ingin menjengukku . Di
sana aku melihat ada Kak Nisa, Kak Mukti , Kak Rio dan satu perempuan yang
menggunakan kaos dilapisi dengan cardigan serta celana panjang yang cukup ketat
. Awalnya aku tidak peduli siapa dia. Karena fokusku telah tenyap hanya untuk
Kak Rio semata. Namun ketika Kak Mukti memperkenalkan satu persatu kedua orang
tersebut, jantungku serasa ingin berhenti berdebar. Alangkah terkejutnya ketika
aku mengetahui bahwa perempuan tersebut adalah kekasih Kak Rio .
Setelah basa-basi yang cukup
membuatku naik darah , akhirnya Kak Mukti menceritakan semuanya . Kak Rio
merupakan adik dari teman dekat Kak Mukti, Kak Mukti pun sudah kenal cukup lama
dengan Kak Rio . Semenjak ayah mengizinkanku mengendarai sepeda motor sendiri
ke sekolah, Kak Mukti meminta Kak Rio untuk selalu mengendarai sepeda motor nya
di belakangku ya seperti mengawal aku dalam berkendara . Dan Kak Rio pun
mengatakan bahwa pada awalnya Ia tidak mengenaliku . Namun setelah bertanya
kepada Rika akhirnya Kak Rio tau yang mana yang bernama Alin .
Saat ini hatiku terasa sangat sakit
. Aku merasa semua orang bersandiwara di depanku . Mengapa dari awal Rika tidak
bercerita kepadaku ? Mengapa dari awal Kak Mukti tidak mengatakan semuanya
kepadaku ? Dan mengapa Kak Rio selalu bertingkah seolah Ia mengagumiku . Aku
merasa terpuruk karena perasaan suka ku kepada Kak Rio . Dan ternyata selama
ini perasaanku hanya sebatas sampai spion .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar