Rabu, 03 Juli 2013

Cerita Pendek Karyaku , *HANYA SAMPAI SPION*

HANYA SAMPAI SPION

Terik Sang Surya hampir membakar penghuni alam semesta , tak terkecuali aku .  Rasanya aku tidak ingin berada di luar sebuah bangunan siang ini . Satu cup jus mangga telah habis selama kurang lebih 10 menit aku duduk di halte menunggu bus , dan jus tersebut serasa hanya lewat kerongkonganku tanpa ada yang singgah sedikitpun . Rasanya aku ingin membeli jus lagi untuk yang kedua kalinya . Namun ternyata setelah aku mengintip uang di saku bajuku , hasrat untuk membeli jus tersebut punah seketika. Sisa uang di saku bajuku hanya cukup untuk membayar ongkos naik bus .
Seketika aku merasa dewi fortuna berpihak kepadaku . Tak lama kemudian sebuah bus kota yang telah menjadi antar jemput setiaku selama aku bersekolah di SMA telah datang . Setidaknya ada harapan agar aku cepat sampai di rumah dan segera bersemedi di depan kulkas . Mungkin memang keberuntungan tidak selalu berpihak kepadaku , bus kota yang ku tumpangi sangat penuh . Sehingga aku harus berdiri dan berdesak-desakkan di dalam bus .
            Sekitar 50 menit kemudian , aku berhasil mewujudkan cita-citaku yakni aku dapat bersemedi di depan kulkas .  Perjalanan dari sekolah hingga aku sampai di rumah memang cukup lama karena aku harus naik bus dengan oper sebanyak dua kali . Terkadang aku merasa kesal karena sebagian besar waktuku habis untuk melakukan perjalanan . Namun apa daya , keinginanku untuk menggunakan kendaraan pribadi ke sekolah ditentang tegas oleh kedua orang tuaku .
            Hari berikutnya , aku menjalankan kegiatanku seperti biasa . Aku bangun sangat pagi, mandi , sarapan , lalu berangkat ke sekolah . Sejak diterima di SMA Cakrawala yang merupakan sekolah favorit di Jakarta empat bulan lalu , aku memang selalu bangun paling pagi diantara seluruh anggota keluargaku . Tapi aku cukup bangga, karena aku bisa mengubah image seorang Alinda Adya Wiratmaja dari anak yang dikenal paling malas dibanding kedua kakak perempuanku menjadi seorang anak yang paling rajin . Keluargaku selalu sarapan bersama setiap pagi. Walau setelah itu kami semua terpisah . Ayah yang bergelar tulang punggung keluarga sudah jelas pergi kerja setiap harinya . Ibu yang memiliki sebuah butik yang berisi hasil karyanya sendiri juga selalu pergi ke butik setiap hari . Kak Nisa belum lama diterima kerja di sebuah perusahaan ternama di Jakarta . Dan Kak Mukti masih kuliah dan bergulat dengan atom, ya karena Ia mengambil jurusan teknik kimia . Dilihat dari segi ekonomi , memang aku sangat beruntung karena aku merasa sangat lebih dari cukup . Namun terkadang aku merasa kesepian , karena sangat jarang aku dapat berkumpul dengan seluruh anggota keluargaku kecuali pada pagi hari ketika sarapan .
            Hari ini aku pergi ke sekolah dengan rasa semangat , aku diantar oleh ayah karena sekolahku searah dengan kantor ayah .
“Yah , makasih ya . Aku sekolah dulu .. Nanti jemput bisa kan ?” pintaku kepada Ayah setelah aku turun dari mobil .
“Duh , Alin kamu kan tau ayah sibuk banget . Kamu naik bus seperti biasanya saja ya”
“Hah? Naik bus lagi ? Ayah ... Naik bus itu panas , desak-desakan ,  bau . Ayah nggak kasihan sama aku ? “
“Mau gimana lagi Lin, maafin Ayah ya . Sudah ayah berangkat dulu . Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam..”
            Tiba-tiba aku merasa semangat yang telah aku dapatkan tadi pagi hilang seketika . Aku terus melangkah menuju ruang kelasku yang berada di sudut belakang sekolah . Kelas X.11 yang menjadi rumah keduaku selama empat bulan belakangan ini memang terletak paling pojok alias paling jauh , namun aku selalu merasa bahagia ketika aku sudah berasa di dalam ruangan berukuran 8 x 8 meter tersebut . Kedatanganku pagi ini disambut oleh Rika , sahabat pertama yang kumiliki selama berada di SMA sekaligus teman sebangkuku .
“Hay Lin.. Kamu kenapa kok bete gitu mukanya ?” Rika langsung menembakku dengan pertanyaan yang langsung to the point .
“Iya Rik, aku lagi bete . Masa tadi aku minta dijemput sama ayahku nanti pas waktu pulang sekolah ayahku nggak mau . Aku malah disuruh naik bus kota yang kamu tau kan panasnya gimana ? Nyebelin banget gak tuh” Jawabku dengan nada emosi .
“Ya ampun Lin, aku kira kenapa . Kamu kan udah biasa naik bus . Biasa aja kali ..”
“Justru itu, aku bosan naik bus terus . Capek Rik ,, capek ..”
“Ahh udah udah , Cuma kayak gitu . Udah jangan bete lagi . Habis ini pelajarannya Bu Ami loh . Masa bete mu mau jadi bete kuadrat ?”
“Hahahaha bisa saja kamu. Eh aku belum ngerjain pr kimia bu Ami . Aku nyontek dong “
“Kamu kebiasaan ..”
            Dua jam pelajaran kimia telah terlewati , satu jam pelajaran matematikapun telah dapat kami lalui . Saatnya mengistirahatkan otak dengan memborong makanan di kantin . Aku dan Rika pergi ke kantin berdua . Kami langsung memesan dua piring siomay , dua gelas es jeruk , serta satu piring tahu bledos . Ya itu semua memang makanan favorit kami . Setiap hari kami selalu bergantian dalam membayar makanan yang kami makanan. Jadi jika hari ini aku yang membayar, besok gantian Rika yang membayar . Dan kebetulan hari ini jatahku yang membayar .
“Bentar ya Rik, aku bayar dulu ..”
“okedeh”
            Aku langsung pergi ke kasir kantin untuk membayar .
“Berapa mbak , meja nomor 3 ?” tanyaku kepada sang kasir .
“Dua puluh ribu mbak”
“Oh .. Oke bentar “
            Aku berniat untuk mengambil dompetku yang seingatku telah aku masukkan ke dalam kantong rokku. Namun naas , aku tidak menemukan dompetku di sana . Aku melirik ke belakang, antrian pembayar sangat banyak . Aku akan diguyur malu habis-habisan jika aku berkata aku tidak bawa dompet. Rika yang duduk cukup jauh dari kasir tidak mungkin bisa membantuku karena tidak mungkin dia tau. Diluar dugaan, seorang anak laki-laki yang tidak ku kenali tiba-tiba datang dan membayarkan dua puluh ribu yang seharusnya menjadi tanggung jawabku , seolah-olah dia tau apa yang aku rasakan . Dengan sangat cool , dia membayarkan dua puluh ribu dan berkata
“Hari ini saya ulang taun, jadi saya yang bayar apa yang dia makan”
Lalu laki-laki tersebut langsung pergi .
            Aku masih bengong di tempat . Aku heran , apa tujuan laki-laki tersebut membayarkan makananku ? Apa dia ulang taun ? Tapi aku tidak kenal . Ah cukup . Saatnya aku tersadar dari lamunanku dan segera menceritakan semuanya kepada Rika . Setelah aku bercerita panjang lebar kepada Rika , dia langsung tertawa terbahak-bahak .
“Ih kamu kok malah ketawa, kamu nggak bingung atau gimana gitu?”
“Hahahaha , Lin cerita kamu gokil sumpah. Cowok itu bagaikan malaikat yang dikirim tuhan untuk mengangkatmu dari jurang kemaluan” Jawab Rika dengan gaya meledeknya .
“Aaahhh kamu apa-apaan sih . Nggak lucu tau . Udah ah balik ke kelas yuk”
            Bel panjang sebanyak empat kali telah dikumandangkan . Itu artinya waktu untuk pulang sudah tiba , dan lagi aku harus merasakan sengsaranya naik bus . Namun hari ini dewi fortuna berpihak kepadaku jauh lebih cepat karena begitu aku keluar dari gerbang sekolah , sebuah bus kota tepat sedang berhenti mencari mangsa anak sekolah yang baru saja keluar gerbang . Dan yang lebih menyenangkan , hari ini aku mendapati kursi yang kosong untuk kududuki . Tak lama kemudian, sopir bus yang aku tumpangi langsung tancap gas dengan kecepatan yang lumayan tinggi . Di tengah perjalanan, tiba-tiba bus yang aku tumpangi mengerem mendadak dan sang sopir menekan klakson panjang . Sudah dapat ditebak bahwa bus ini hampir menabrak seseorang . Setelah aku melihat keluar kaca bus , ternyata benar . Bus yang aku tumpangi hampir menabrak seorang lelaki anak SMA yang mengandarai sepeda motor  , dan yang membuatku terkejut adalah lelaki pengendara sepeda motor tersebut adalah siswa dari SMA yang sama denganku, karena seragam yang dikenakannya sama seperti seragam yang aku kenakan . Namun aku tidak dapat mengenali wajahnya . Karena wajahnya tertutup rapat oleh helm dan masker yang dikenakannya .
            Tidak seperti biasanya , malam ini seluruh anggota keluargaku dapat berkumpul untuk makan malam bersama . Aku merasa malam ini sangat indah . Malam ini adalah moment langka bagiku . Dan yang membuat malam ini lebih sempurna adalah Ayah dan Ibu telah mengizinkanku untuk mengendarai sepeda motor sendiri ke sekolah . Tadi siang Ayah mencarikan SIM dengan cara yang memang melanggar hukum untukku . Namun bagiku semua itu tidak masalah . Yang penting aku bisa mengendarai sepeda motor sendiri ke sekolah . Jadi aku tidak perlu merasakan desak-desakan naik bus lagi . Ayah bilang , bahwa besok aku sudah bisa mengendarai motor sendiri ke sekolah . Rasanya aku ingin cepat-cepat tidur dan cepat-cepat bangun di esok pagi. Aku sudah tidak sabar untuk merasakan kebebasan mengendarai motor sendiri ke sekolah .
            Waktu masih menunjukkan pukul 05.30 WIB . Namun aku sudah rapih dengan seragam hem putih lengan panjang dan rok kotak-kotak berwarna abu-abu , serta rambut lurusku yang telah tersusun rapih dalam satu gulung ikat rambut . Pagi ini aku merasa sangat bersemangat pergi ke sekolah . Ayah Ibu serta kedua Kakakku terlihat keheranan melihat aku lima kali lebih rajin dari biasanya . Tapi biarlah , mereka tidak tau apa yang aku rasakan . Kebahagiaan yang tidak berujung .
            Hidupku terasa sangat lengkap hari ini . Aku benar-benar merasakan hiruk-pikuk kota Jakarta sendiri , melintasi  jalan raya sendiri . Aku belum berani mengendarai sepeda motor ku dengan kecepatan tinggi karena aku belum menguasai medan yang kulalui . Akan tetapi segala kebahagiaanku lenyap seketika ketika tiba-tiba seorang laki-laki berseragam sama sepertiku dengan motor yang cukup besar menyalip dengan diawali permainan gas motornya dan hampir menyerempet motorku . Sudah jelas , semua itu membuatku kaget dan seakan membangunkanku dari lamunan indahku . Setelah aku perhatikan orang tersebut , ternyata orang yang hampir menyerempetku tadi adalah orang yang hampir ditabrak oleh bus yang aku tumpangi kemarin . Dapat disimpulkan bahwa orang tersebut memang mengendarai motor ugal-ugalan .
            Tak lama kemudian , aku tiba di sekolah . Sesampainya di kelas , seperti biasa aku menceritakan seluruh peristiwa yang telah aku lalui sejak aku berpisah dengan Rika , sampai aku bertemu lagi dengan nya . Rika pun memberikan respon seperti biasa . Yakni meledek . Jujur aku merasa sedikit kesal , karena aku sedang berbicara serius mengenai pria misterius yang telah aku lihat sebanyak dua kali tersebut . Tapi aku telah memahami karakter Rika . Jadi aku bisa menahan amarahku .
            Bel panjang sebanyak tiga kali telah terdengar , artinya waktu istirahat telah tiba . Rika pergi ke kantin lebih dulu sedangkan aku ingin pergi ke toilet terlebih dulu . Setelah dari toilet, aku langsung berjalan menuju kantin . Resiko berjalan dari toilet ke kantin ialah aku harus melewati ruang kelas XI IPA . Jujur saja aku masih belum PD harus berjalan sendirian melewati lorong kelas XI . Selama melewati lorong kelas XI , aku terus menundukkan kepala , aku tidak berani melihat wajah kakak kelasku . Dan aku tidak mau kakak kelasku hafal dengan wajahku . Namun sial , tiba-tiba aku menabrak seorang laki-laki yang sepertinya adalah anak kelas XI . Spontan aku langsung minta maaf . Ketika aku melihat wajahnya , ternyata laki-laki tersebut adalah orang yang sama dengan orang yang membayar makanku di kantin kemarin . Namun belum sempat aku berbicara lebih banyak, laki-laki tersebut dengan cepat berjalan meninggalkanku . Menurut Rika , laki-laki tersebut adalah salah satu penggemar rahasiaku . Tapi itu semua terdengar sangat konyol .
            Keesokan harinya , aku masih mengendarai sepeda motor sendiri ke sekolah . Baru beberapa meter aku meninggalkan gerbang perumahan tempat tinggalku , aku melihat ke arah spion motor sebelah kanan . Aku melihat laki-laki yang kemarin telah merusak pagi indahku . Seolah tidak ingin Ia merusak pagiku hari ini, aku langsung tancap gas lebih kencang . Dan seolah tidak ingin kalah pula , laki-laki tersebut turut tancap gas motornya lebih kencang lagi . Terjadilah balapan yang tidak terlihat antara aku dan laki-laki tersebut . Yah walau akhirnya aku berada jauh di belakangnya . Setibanya di parkiran sekolah , aku menyelidiki siapa laki-laki bermotor besar tersebut . Ternyata Ia adalah orang yang sama dengan orang yang beberapa hari lalu membayar makananku di kantin , dan aku menabraknya di lorong kelas XI .
            Konsentrasiku tidak berada di kelas selama pelajaran . Aku masih bingung dengan sosok laki-laki tersebut . Kali ini aku sengaja tidak menceritakan semuanya kepada Rika . Karena aku termakan omongan Rika , apakah mungkin jika laki-laki tersebut adalah penggemar rahasiaku ? Entahlah . Aku hanya meminta bantuan Rika untuk mencari informasi tentang anak tersebut . Dan cukup memuaskan , Rika dapat mengetaui identitas anak laki-laki tersebut . Ia bernama Rio dan merupakan penghuni kelas XI IPA 2 .
            Entah mengapa , aku merasa bahwa Kak Rio memiliki rasa yang istimewa kepadaku . Saat ini , setiap berangkat dan pulang sekolah aku selalu melirik ke arah spionku demi melihatnya . Memang kebetulan rumah ku dan rumah Kak Rio searah . Walau begitu aku belum tau di mana rumah Kak Rio . Karena rumahnya lebih jauh dari rumahku . Pagi ini aku berangkat seperti biasa . Dan seperti biasa pula , aku sering melirik ke arah spionku karena Kak Rio telah berada di belakangku . Dan seolah Ia tau bahwa aku memperhatikannya , Kak Rio langsung menyalakan lampu tembaknya ke arahku . Semenjak aku tau bahwa Kak Rio adalah sosok yang sering aku temui dalam keadaan tidak sengaja , aku menjadi kepedean . Aku merasa bahwa Kak Rio memiliki rasa suka kepadaku sehingga aku pun memiliki rasa suka kepadanya . Namun tidak mungkin bagiku mengatakan semua ini lebih dulu kepada Kak Rio . Perasaan gengsi masih merasuk dalam tulang rusukku .
            Semakin lama aku semakin yakin bahwa Kak Rio suka kepadaku , karena dia selalu memberi sinyal-sinyal yang menunjukkan bahwa dia suka kepadaku . Seperti mengklaksonku ketika di jalan Ia akan menyalipku , menyapaku ketika kami bertemu di kantin , dan lainnya . Tapi di sisi lain aku juga merasa geregetan karena Ia tidak segera mengatakan perasaannya kepadaku . Hingga akhirnya , aku menceritakan semuanya kepada Rika . Tidak dengan respon seperti biasanya yang cenderung meledek , kali ini Rika hanya terdiam bisu mendengarkan ceritaku . Responnya seperti seolah-olah menahan sesuatu yang ingin diucapkan . Seperti menyembunyikan sesuatu dariku . Akupun tidak ingin memikirkan hal tersebut terlalu jauh . Aku percaya dengan sahabatku . Mungkin memang Rika sedang kurang bersemangat hari ini.
            Keesokan harinya , aku berangkat sekolah seperti biasa . Di tengah perjalanan lagi-lagi aku melihat Kak Rio dari spion . Namun entah mengapa , kali ini terasa berbeda . Hingga aku terus memandangi spionku dengan frekuensi yang lebih banyak dari biasanya . Sial , seluruh kebahagiaan itu menghasilkan petaka . Aku yang mengendarai sepeda motorku dengan konsentrasi yang sangat minim karena fokusku hampir habis untuk memandangi  Kak Rio dari spion , menabrak sebuah mobil yang menurutku mengerem mendadak . Sontak aku dan sepeda motorku langsung jatuh terlempar ke tanah . Aku tidak bisa melihat dengan jelas lagi . Semua terlihat buyar . Tapi satu yang dapat aku pastikan . Bahwa Kak Rio langsung menghentikan laju sepeda motornya dan bergegas menolongku. Setelah itu aku langsung pingsan tak sadarkan diri .
            Entah berapa lama aku pingsan , tapi yang jelas ketika mataku telah sanggup membuka sedikit demi sedikit dan aku melihat sekelilingku , aku telah berada di salah satu ruang rawat rumah sakit . Dengan infus yang menempel di tanganku dan juga selang oksigen yang terpasang di dalam lubang hidungku .Satu-satunya orang yang ada di dekatku saat itu adalah ibuku . Begitu melihatku tersadar, ibu langsung tersenyum bahagia dan memelukku dengan lembut . Ibu langsung memberi tau berita baik ini kepada para kakak dan ayah ku . Setelah puas memberi kabar kepada orang lain , Ibu pun bercerita kepadaku . Menurut perkataan ibu pasca kecelakaan itu dua hari aku tidak sadarkan diri . Seluruh anggota keluargaku merasa khawatir . Dan Kak Rio, orang yang menolongku pada saat peristiwa kecelakaan itu terjadi mungkin juga merasakan hal yang sama dengan semua orang yang ada di sekitarku .
            Energiku belum pulih seutuhnya . Aku masih merasakan lemas yang amat sangat berlebihan . Walau selang oksigen telah dilepaskan dari hidungku, namun jarum infus yang disambungkan dengan selang serta cairan infus itu masih menancap di punggung tangan kiri ku . Sudah dua hari sejak aku sadarkan diri aku hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur yang lumayan nyaman itu.
            Hari ini adalah hari ketiga pasca aku sadarkan diri . Namun rasanya belum ada perubahan yang berarti . Seluruh badanku masih terasa sakit . Dan hal yang membuat semua ini lebih tidak berarti adalah , Kak Rio belum pernah sedetikpun menginjakkan kaki di rumah sakit tempatku dirawat untuk menjengukku . Aku mencoba berspekulasi , apakah Ia takut dengan kedua orang tuaku karena Ia yang membawaku ke rumah sakit ? Atau memang Ia tidak peduli denganku ? Entahlah . Ketika aku sedang memikirkan berbagai alasan mengapa Kak Rio tidak menjengukku , tepat ketika jam pulang sekolah, Rika yang menjadi sahabatku selama ini datang menjengukku . Setidaknya Rika dapat menghapuskan beberapa kesedihanku .
            Setelah bercerita panjang lebar, akhirnya aku bisa memahami alasan mengapa tidak ada seorangpun yang datang menjengukku . Ternyata di sekolah sedang diadakan tes seleksi untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri dan seluruh siswa wajib untuk mengikuti tes tersebut . Dan pengecualian untuk siswa yang sedang sakit sepertiku . Dan tes tersebut berakhir hari ini . Karena sekolahku memang sekolah yang berbasis IT , untuk mengolah data hasil tes tidak dibutuhkan waktu yang lama. Seketika pengumuman siswa yang lolos langsung diumumkan pada hari itu juga. Dan Kak Rio berhasil lolos tahap pertama . Sehingga Ia masih harus mengikuti tes-tes selanjutnya.
            Tapi siapa yang menduga bahwa ketika sore tiba dan aku baru saja membuka mata setelah tidur yang cukup lama , dihadapanku telah ada beberapa orang yang kelihatannya ingin menjengukku . Di sana aku melihat ada Kak Nisa, Kak Mukti , Kak Rio dan satu perempuan yang menggunakan kaos dilapisi dengan cardigan serta celana panjang yang cukup ketat . Awalnya aku tidak peduli siapa dia. Karena fokusku telah tenyap hanya untuk Kak Rio semata. Namun ketika Kak Mukti memperkenalkan satu persatu kedua orang tersebut, jantungku serasa ingin berhenti berdebar. Alangkah terkejutnya ketika aku mengetahui bahwa perempuan tersebut adalah kekasih Kak Rio .
            Setelah basa-basi yang cukup membuatku naik darah , akhirnya Kak Mukti menceritakan semuanya . Kak Rio merupakan adik dari teman dekat Kak Mukti, Kak Mukti pun sudah kenal cukup lama dengan Kak Rio . Semenjak ayah mengizinkanku mengendarai sepeda motor sendiri ke sekolah, Kak Mukti meminta Kak Rio untuk selalu mengendarai sepeda motor nya di belakangku ya seperti mengawal aku dalam berkendara . Dan Kak Rio pun mengatakan bahwa pada awalnya Ia tidak mengenaliku . Namun setelah bertanya kepada Rika akhirnya Kak Rio tau yang mana yang bernama Alin .

            Saat ini hatiku terasa sangat sakit . Aku merasa semua orang bersandiwara di depanku . Mengapa dari awal Rika tidak bercerita kepadaku ? Mengapa dari awal Kak Mukti tidak mengatakan semuanya kepadaku ? Dan mengapa Kak Rio selalu bertingkah seolah Ia mengagumiku . Aku merasa terpuruk karena perasaan suka ku kepada Kak Rio . Dan ternyata selama ini perasaanku hanya sebatas sampai spion . 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar