Kamis, 24 Oktober 2013

CINTA DI BALIK CITA

CINTA DI BALIK CITA
lintang
Gumpalan awan terlihat menutupi cahaya matahari yang seolah ingin membangkitkan semangatku . Detik demi detik berlalu , tak terasa hamparan tanah yang ada di hadapanku saat ini telah terbasahi oleh hujan yang telah turun sejak beberapa detik lalu . Namun aku dan lamunanku masih tak terpisahkan . Bukan tugas sekolah ataupun konflik dengan orang lain yang sedang ada dalam fikiranku . Entah apa yang ada di fikiranku saat itu , yang pasti hal tersebut sangat menguras otakku . Tak terasa hujan turun semakin deras, bahkan sangat deras . Aku yang sedari tadi duduk di balkon depan kamarku mulai terkena cipratan air hujan . Baru detik itu aku bisa terlepas dari lamunanku dan beranjak dari balkon menuju ke dalam kamarku yang telah menjadi surgaku selama bertahun-tahun untuk beristirahat memecah kepenatan yang telah menjulur di tubuhku sehari ini .

Nazwa Febri Alinta , nama terindah yang pernah kumiliki sejak pertama kali tuhan mengizinkan aku menginjakkan kaki di dunia ini sekitar 16 tahun lalu . Nazwa merupakan nama yang diberikan oleh Bunda yang berarti harapan supaya aku selalu mengikuti jalan yang lurus , dan hanya Bunda yang memanggilku dengan nama itu. Aku lebih sering dipanggil Febri oleh teman-teman serta anggota keluargaku yang lain . Kedua kakakku yang super sibuk justru memanggilku Alin . Entahlah, begitu banyak panggilan yang sering terdengar oleh telingaku namun aku tetaplah aku. Saat ini aku merupakan salah satu siswi kelas XI IPA 1 di SMA Cendrawasih yang merupakan salah satu sekolah favorit di Surakarta atau lebih akrab disebut Solo . Aku telah tinggal di kota ini sejak 6 tahun lalu. Sebelumnya aku dan keluarga menetap di Bandung , namun karena Ayah harus pindah tugas, kami sekeluarga juga harus mengikuti Ayah pindah . Namun aku masih dapat menikmati karena di Solo aku menemukan banyak teman yang ramah nan baik kepadaku .
Hari ini aku menjalani rutinitas seperti biasa . Aku berangkat ke sekolah bersama Ayahku karena hanya ayahku yang bisa mengantarku ke sekolah . Kedua kakakku sudah kuliah di luar kota, Bunda sejak pagi buta sudah pergi ke resto sederhana yang dimilikinya sejak tiga tahun lalu. Selama perjalanan aku dan ayah tak pernah bisa diam . Kami selalu bertukar cerita tentang hari-hari kami . Hingga tak terasa sekolah tempatku menimba ilmu telah di depan mata dan aku harus mengakhiri obrolanku dengan ayah .
Walau telah hampir dua tahun aku menimba ilmu di sekolah ini , namun aku masih belum bisa mengenal seluruh temanku dengan baik . Siswa seangkatan yang ku kenali tidaklah banyak. Ya paling teman sekelas dan teman kelas X dulu . Jadi jika sering terdengar kabar burung tentang siswa yang bikin heboh, aku hanya menjadi pendengar setia tanpa mengetahui pelakunya . Namun aku tak pernah merasa kesepian , karena aku selalu merasa asyik dengan duniaku sendiri. Aku sangat tertarik dengan dunia sastra . Entah sudah berapa ratus kali aku menggoreskan tinta di atas kertas dan menghasilkan susunan kata-kata indah yang bermakna besar .
Hari ini aku menjalani kegiatan belajar mengajar seperti hari-hari biasa. Ditengah pelajaran biologi, kantukku sangat tak tertahankan . Aku berharap bel istirahat cepat berdering . Aku sangat ingin pergi ke kantin dan membeli segelas kopi agar mataku bisa bertahan hingga jam terakhir . Aku masih harus melewati empat jam pelajaran lagi . Kantukku bukan karena kekurangan porsi tidur , tapi karena ada hal lain yang mengganjal, yang membuatku selalu ingin tidur . Dengan penuh perjuangan , pelajaran biologi pun berakhir dan bel tanda istirahat telah berdering beberapa detik lalu . Aku segera bergegas ke kantin tanpa mengajak teman sama sekali . Ya , aku terlalu menginginkan kopi saat ini . Setibanya di kantin , aku memesan satu cup kopi seharga Rp 3000,- . Beruntung antrean yang ada belum terlalu panjang sehingga aku tak perlu menunggu lama  . Setelah mendapatkan pesananku , aku segera menuju kasir untuk membayar . Menyebalkan , di kasir terlihat segerombolan anak laki-laki yang sedang antre membayar . Setelah aku mendekat benar saja perkiraanku, mereka yang awalnya tidak antre alias hanya bergerombol, langsung menerobos antreanku. Aku tidak mengenali mereka, namun yang jelas mereka adalah anak kelas XI IPS . Tapi memang semua anak laki-laki begitu, tak peduli prodi IPA atau IPS. Tapi.. ada seorang anak laki-laki yang tidak ikutan menerobos antreanku . Aku juga tidak mengenalinya , namun Ia malah tersenyum dan mempersilahkanku mengantre di depannya . Anak yang aneh, batinku . Aku membayar dengan satu lembar dua puluh ribuan , begitu mendapatkan uang kembalian tanpa menghitungnya lagi, langsung ku masukkan ke dalam saku bajuku dan aku segera berjalan meninggalkan kantin menuju kelasku . Tak terasa bel tanda berakhirnya istirahat telah berakhir. Akupun mulai mengikuti pelajaran seperti biasa . Beruntung kopi yang ku minum ketika istirahat tadi mampu menahan kantukku hingga jam pelajaran terakhir . Alunan lagu ‘syukur’ telah terdengar, akupun bersiap-siap untuk pulang . Tapi aku yakin di luar sana , Ayah pasti belum datang . Aku memutuskan untuk menunggu kabar dari Ayahku untuk menjemput dengan duduk di kursi yang tersedia di depan kelasku .
Aku duduk sambil memainkan pena di atas lembar buku yang telah terisi oleh banyak puisi karyaku . Aku melontarkan seluruh imajinasi yang ada di kepalaku . Namun tiba-tiba telah berdiri seorang laki-laki tepat dihadapanku . Setelah ku lihat wajahnya...
“Hai...” sapa laki-laki itu dengan ramah . Aku hanya membalasnya dengan senyuman . Tanpa bertanya ataupun ragu, anak laki-laki yang ternyata orang yang ku sebut aneh ketika di kantin tadi langsung duduk di sampingku .
“Kamu ngerasa kehilangan sesuatu ga?” tanya orang itu .
“Ha ? Nggak tuh . Kehilangan apaan ?”
“Wah .. Kamu itu cantik-cantik kok ceroboh “
“Heh apaan sih, dateng dateng malah ngatain orang seenaknya! “
“Wusss.. Kalem to . Ini aku mau ngasih uang kembalian . Pas kamu jajan di kantin tadi, uang kembalianmu kurang lima ribu, tapi kamu keburu pergi . Coba di cek deh “
Loh? Aku tidak menyadari hal itu , aku segera mengambil uang yang ada di saku bajuku dan menghitungnya . Benar saja, uang yang ada hanya Rp 12.000,- .
“Eh iya bener, duh maaf ya udah bentak kamu”
“Hahaha.. Gak papa kok, aku juga yang salah . Nih uangmu”
“Makasih yaa “
By the way, kamu belum pulang Feb ?”
“Belum.. Nunggu jemputan .. Eh eh eh bentar, kok kamu bisa manggil aku Feb ? Kamu tau namaku?”
“Tau dong. Aku gitu . Nazwa Febri Alinta , pecinta sastra apalagi puisi “ orang itu menjawab dengan ekspresi kepuasan . Akupun semakin bingung .
“Kamu tau darimana ?”
Tiba-tiba Nadia , teman sebangkuku keluar dari kelas . Dia melihat aku dan anak laki-laki itu duduk bersama .
“Ehm..enak banget nih duduk berduaan “ dengan wajah mengejek Nadia menyapa .
“Hai Nad . Udah selesai urusannya ?” sapa laki-laki itu . Aku semakin bingung melihat keakraban mereka berdua .
“Udah kok . Kamu ngapain Feb sama si tuyul ini?”
“Loh? Kamu kenal Nad ? Dia tadi nganterin uangku yang ketinggalan di kantin” jawabku.
“Ya kenal lah, dia ini sepupuku . Rumah kami aja sebelahan . Berangkat pulang barengan terus. Kalian udah kenalan ?”
Aku dan anak laki-laki itu menggelengkan kepala bersamaan . Akhirnya kamipun berkenalan . Kami berjabat tangan seraya menyebutkan nama .
“Angga ..”  nama yang terucap dari bibirnya ketika berjabat tangan denganku .
“Ngga , pulang yuk . Aku ada les nanti jam 3 . Feb , kami pulang dulu ya”
“Oh, iya deh . Hati-hati ya kalian “ jawabku disertai seulas senyuman . Merekapun bergegas pergi , dan aku kembali melanjutkan puisiku . Namun tiba-tiba Angga berlari kembali ke arahku .
“Besok aku mau baca apa yang kamu tulis “  setelah mengatakan hal tersebut , Angga langsung berlari ke arah Nadia yang terlihat kebingungan melihat Angga . Aku hanya terdiam mendengar ucapan Angga . Sungguh , laki-laki aneh . Tak lama ponselku berdering , terlihat pesan dari Ayah bahwa beliau telah menunggu di depan gerbang sekolah .
Keesokan harinya aku datang sangat pagi karena Ayah harus berangkat lebih pagi . Sekolahku masih sangat sepi. Di kelas hanya ada aku dan Nadia . Nadia pun bercerita bahwa Ia selalu menceritakan apapun yang terjadi kepada Angga . Atau dengan kata lain , Angga yang merupakan siswa kelas XI IPS 4 itu adalah teman curhat Nadia . Mereka sudah bersama sejak kecil jadi wajar jika Angga tau semua tentang aku dan kebiasaanku . Ternyata Angga juga Pecinta Sastra. Namun Ia hanya menyukai puisi . Setelah berbincang dengan Nadia , aku ingin keluar kelas untuk menikmati indahnya pemandangan di pagi hari . Aku meninggalkan Nadia sendiri di kelas karena kebetulan Ia belum mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan hari ini . Aku duduk di kursi depan kelasku sambil memandangi indahnya taman yang ada di bagian tengah sekolahku ini . Seperti kemarin siang , Angga datang dengan tiba-tiba namun kali ini aku lebih tenang karena Angga sudah tak sepenuhnya asing bagiku . Semenjak kedatangan Angga , kami berdua tak ada hentinya dalam berbincang . Hal yang kami bicarakan tak lain tentang puisi . Entah mengapa aku merasa langsung klop dengan Angga . Mungkin karena kami memiliki hobi yang sama . Seakan terhanyut dalam derasnya arus yang mengalir , tak sadar aku telah menceritakan hal yang telah membebani fikiranku selama ini . Dalam genggamanku terlihat setumpuk kertas tersusun rapi . Di kertas tersebut tertulis ‘Karya Tulis’ dan terpampang judul ‘Pengaruh Sastra dalam Prestasi Belajar Siswa’ . Bukan atas dasar eksistensi pribadi , tapi karena kecintaanku kepada sastra dan aku sangat ingin mengembangkan sastra yang selama ini sering diabaikan di lingkungan remaja yang membuat aku sangat ingin mendirikan suatu organisasi berisi kegiatan yang berhubungan dengan sastra . Karya tulis yang sebenarnya tugas sekolah aku jadikan sebagai alat penyalur aspirasiku . Karena aku tidak terlalu mengenal banyak orang , maka hal tersebut sulit bagiku untuk terlaksana . Aku tidak pernah menceritakan tentang cita-cita sederhanaku ini kepada siapapun termasuk Nadia . Selama ini aku hanya terus memikirkan cara bagaimana semua ini bisa terwujud . Dan Angga merupakan orang pertama yang tau tentang semua rencanaku ini . Walau Angga bukan orang yang aktif dalam organisasi dan entah apa tujuanku menceritakan semua ini kepada Angga , namun semua ini terasa lebih ringan . Tak terasa bel tanda masuk telah berbunyi . Angga sangat ingin membaca buku yang berisi puisi-puisi karyaku , namun aku belum mengizinkannya . Mungkin suatu saat nanti .
Sejak aku menceritakan impianku tersebut , Angga semakin sering menemuiku . Menurutnya , itu merupakan cita-cita mulia yang perlu didukung . Angga sering mengajakku menemui para pengurus OSIS untuk membahas rencanaku tersebut . Rencanaku disambut baik oleh mereka semua . Aku dan Angga diminta menjadi pemimpin dalam mendirikan organisasi tersebut dan kami diminta untuk mencari siswa/i yang memiliki bakat ataupun minat dalam bidang sastra . Oleh karena itu, aku dan Angga semakin akrab . Bahkan Angga sering main ke rumahku untuk membahas rencana kami atau hanya untuk sekedar menulis puisi . Terkadang Angga juga ke rumahku untuk melukis, karena Ia memang pandai melukis dan kebetulan pemandangan sekitar rumahku sangat indah . Ayah dan Bunda menyambut baik kedatangan Angga . Karena selama ini aku tidak pernah mengajak teman untuk main ke rumahku . Mungkin semua ini membuat orang tuaku lega , setidaknya mereka tau aku memiliki sahabat .
Seiring berjalannya waktu , Aku dan Angga telah berhasil mendirikan organisasi yang menjadi impianku tersebut . Anggota kami terus bertambah hingga mencapai angka 40 siswa yang terdiri dari siswa kelas X dan XI . Kami mengadakan pertemuan rutin setiap hari Sabtu . Dua bulan di awal semua berjalan mulus . Setiap pertemuan selalu dihadiri oleh para anggota . Hingga suatu ketika pada hari Sabtu di awal bulan ketiga pertemuan yang dibina oleh guru bahasa Indonesia kami tersebut hanya dihadiri oleh 5 orang siswa dan dua diantaranya adalah aku dan Angga . Rasanya seperti terjun dari atas langit . Entah apa alasan mereka tidak menghadiri pertemuan ini . Namun Angga meminta agar aku berfikir positif, mungkin mereka sedang ada keperluan lain yang lebih penting . Aku menjadi lebih tenang setelah mendapat semangat dari Angga . Beberapa minggu berjalan , ini kali ke-4 pertemuan Pecinta Sastrahanya dihadiri oleh tak lebih dari lima orang . Sungguh ini sangat menyakitkan , padahal dua minggu lagi, lomba puisi akan diadakan di tingkat kota . Setiap sekolah wajib mengirimkan empat siswa sebagai perwakilan . Di awal rencana , aku ingin diadakan seleksi dari seluruh anggota Pecinta Sastradi sekolahku ini . Namun setelah ada pemberitahuan , tak ada dari mereka yang tergerak untuk datang . Hanya tiga orang siswa kelas X yang datang . Mengetahui itu semua , pihak OSIS berencana ingin membubarkan organisasi yang telah aku pertahankan tersebut . Tapi aku memohon dengan sangat untuk memberi toleransi hingga lomba puisi diselenggarakan . Jika setelah lomba tersebut anggota yang hadir masih sangat sedikit, maka aku harus ikhlas jika organisasi Pecinta Sastradibubarkan . Angga selalu mendukungku, Ia selalu memberi semangat , mungkin ini yang disebut persahabatan .
Waktu untuk lomba telah tiba . Berdasar kesepakatan perwakilan dari sekolah kami adalah Aku, Angga dan dua siswa kelas X yakni Nico dan Arini . Kami semua melombakan puisi karya kami masing-masing . Sungguh hal yang tak terduga ketika mendengar pengumuman bahwa Aku,Angga dan Nico bisa lolos ke tingkat provinsi . Mungkin nasib baik belum berpihak kepada Arini . Perlombaan tingkat provinsi yang hanya selisih waktu dua minggu dengan lomba tingkat kota tersebut dilaksanakan di Kota Semarang . Pagi itu Aku , Angga dan Nico berangkat dengan menggunakan mobil pribadi milik guru pembina kami . Setelah beberapa jam menunggu giliran , akhirnya tiba waktunya bagi kami untuk tampil . Aku tak pernah merasa sedikitpun gugup ketika diminta untuk menunjukkan karya dan kemampuan dalam bidang ini . Mungkin atas dasar itu juga , diantara kami bertiga hanya aku yang tampil menjadi juara untuk mewakili provinsi Jawa Tengah di tingkat Nasional . Terlihat  ekspresi kecewa di wajah Angga dan Nico , namun  Angga masih sanggup tersenyum dan larut dalam kebahagiaan yang aku rasakan .
Tiba waktunya untuk unjuk kebolehanku di Jakarta . Hal yang paling membuatku semangat ialah Angga rela tidak masuk sekolah demi memberi dukungan untukku di lomba ini . Hari ini pun menjadi sangat menyenangkan . Kompetisi tersebut telah kujalani . Entah apa hasilnya nanti , yang pasti aku telah lega dan merasakan arti persahabatan .
Tiba waktunya untuk mendengar pengumuman hasil jerih payahku . Dan aku... Aku harus puas dengan juara 2 . Walau tidak jadi juara pertama , namun saat itu aku sama sekali tak merasa sedih  justru aku merasa sangat gembira .
Selepas keluar dari ruang peserta , aku telah disambut oleh kehadiran Angga . Ia melontarkan senyum terindahnya kepadaku .
“Kamu sangat hebat .. Kamu sudah menjadi juara yang sesungguhnya “ ujar Angga seraya merangkulku .
“Ah kamu bisa aja , thanks ya “
Dari lokasi lomba , Angga meminta izin kepada Bunda untuk mengajakku jalan-jalan keliling kota Jakarta . Tanpa ragu Bunda mengizinkan kami pergi dan Bunda langsung kembali ke hotel tempat kami menginap .
Kami pergi jalan-jalan menikmati pesona Jakarta di sore hari . Kami sangat menikmati hari ini , sungguh hari yang indah . Hingga kami merasa lelah, dan beristirahat di sebuah Taman Kota . Kami tak henti-hentinya berbincang-bincang . Perbincangan kami berbelok kesana kemari , entah apa yang sedang kami bahas tapi semua ini menyenangkan .
“Coba lihat bintang-bintang di langit itu ! Lihat ada satu bintang yang terlihat beda, terlihat paling indah” ujar Angga .
“Iya , aku lihat , kenapa ?”
“Gak apa-apa . Indah aja kalo kita bisa jadi kayak bintang itu “
Aku hanya menanggapinya dengan senyuman .
“Feb.. Salah gak kalo aku ngerasain cinta ?”
“Hah? Ya enggaklah.. Kamu juga pasti udah ngerasain kali. Kamu pasti cinta sama keluarga, sama temen , jadi apa yang salah coba ? “
“Tapi.. Aku cintanya sama kamu”
“Aku juga cinta , kamu itu sahabat terindah yang pernah aku punya” jawabku sambil menatapnya dengan senyuman . Sebenarnya, aku tau apa maksud pembicaraannya . Namun aku tak ingin membahasnya. Angga pun hanya membalasnya dengan senyuman .
Waktu terus berlalu, Pecinta Sastratidak jadi dibubarkan tapi malah bertambah peminatnya. Mereka juga selalu menghadiri pertemuan yang ada . Aku sangat senang. Aku dan Angga juga masih menjadi sahabat yang sangat akrab . Tak terasa waktu cepat berlalu , saatnya telah tiba . Namun aku tidak tega melakukan semua ini . Aku hanya bisa menitipkan secarik kertas dan buku kumpulan puisiku kepada Nadia untuk diberikan kepada Angga .

To: Angga
Ngga , sorry banget ya Aku gak gentle . Aku gak berani ngomong langsung ke kamu . Aku milih pake cara kuno, pake surat . Untuk kesekian kalinya, aku harus ikut Ayah ke mana Beliau ditugaskan . Aku pamit ya , Aku harus pindah ke Medan . Tapi tenang saja , kalau ada waktu aku bakal main ke Solo kok . Oh iya, inget tentang apa yang kamu omongin ke aku beberapa bulan lalu selepas aku lomba ? Aku ngerti maksudmu kok, tapi kita sama-sama sekolah dulu , lulus bareng, sukses bareng , baru mikir pasangan , hehe . Tapi persahabatan kita gak akan putus kan ? Gak akan dan gak boleh !
Dan ini buku yang dari dulu ingin kamu baca, tapi gak aku izinin . Simpan ya, anggap kenang-kenangan dari aku . Dan di halaman 267 itu merupakan puisi spesial buat kamu . Telfon aku kalo kamu udah baca surat ini .
                                                                                    Febri
Menurut kabar yang diberi oleh Nadia , Angga sempat menangis ketika membaca suratku , namun tangisan itu berubah menjadi seulas senyum ketika Angga membuka halaman 267 pada buku yang aku berikan . Tak selamanya cinta diungkapkan dalam bentuk pacaran .

Kuberjalan mencari jiwa yang hilang
Namun tak kutemukan
Tapi tunggu , aku melihat jiwa lain yang datang
Jiwa yang membakar semangatku
Jiwa yang mampu melukiskan senyuman
Jiwa yang tak pernah padam demi ragaku
Jiwa itu Dia ..

(Hlm.267)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar