CINTA DI BALIK CITA
lintang
Gumpalan awan terlihat menutupi cahaya matahari yang seolah ingin
membangkitkan semangatku . Detik demi detik berlalu , tak terasa hamparan tanah
yang ada di hadapanku saat ini telah terbasahi oleh hujan yang telah turun
sejak beberapa detik lalu . Namun aku dan lamunanku masih tak terpisahkan .
Bukan tugas sekolah ataupun konflik dengan orang lain yang sedang ada dalam
fikiranku . Entah apa yang ada di fikiranku saat itu , yang pasti hal tersebut
sangat menguras otakku . Tak terasa hujan turun semakin deras, bahkan sangat
deras . Aku yang sedari tadi duduk di balkon depan kamarku mulai terkena
cipratan air hujan . Baru detik itu aku bisa terlepas dari lamunanku dan
beranjak dari balkon menuju ke dalam kamarku yang telah menjadi surgaku selama
bertahun-tahun untuk beristirahat memecah kepenatan yang telah menjulur di
tubuhku sehari ini .
Nazwa Febri Alinta , nama terindah yang pernah kumiliki sejak
pertama kali tuhan mengizinkan aku menginjakkan kaki di dunia ini sekitar 16
tahun lalu . Nazwa merupakan nama yang diberikan oleh Bunda yang berarti
harapan supaya aku selalu mengikuti jalan yang lurus , dan hanya Bunda yang
memanggilku dengan nama itu. Aku lebih sering dipanggil Febri oleh teman-teman
serta anggota keluargaku yang lain . Kedua kakakku yang super sibuk justru
memanggilku Alin . Entahlah, begitu banyak panggilan yang sering terdengar oleh
telingaku namun aku tetaplah aku. Saat ini aku merupakan salah satu siswi kelas
XI IPA 1 di SMA Cendrawasih yang merupakan salah satu sekolah favorit di
Surakarta atau lebih akrab disebut Solo . Aku telah tinggal di kota ini sejak 6
tahun lalu. Sebelumnya aku dan keluarga menetap di Bandung , namun karena Ayah
harus pindah tugas, kami sekeluarga juga harus mengikuti Ayah pindah . Namun
aku masih dapat menikmati karena di Solo aku menemukan banyak teman yang ramah
nan baik kepadaku .
Hari ini aku menjalani rutinitas seperti biasa . Aku berangkat ke
sekolah bersama Ayahku karena hanya ayahku yang bisa mengantarku ke sekolah .
Kedua kakakku sudah kuliah di luar kota, Bunda sejak pagi buta sudah pergi ke
resto sederhana yang dimilikinya sejak tiga tahun lalu. Selama perjalanan aku
dan ayah tak pernah bisa diam . Kami selalu bertukar cerita tentang hari-hari
kami . Hingga tak terasa sekolah tempatku menimba ilmu telah di depan mata dan
aku harus mengakhiri obrolanku dengan ayah .
Walau telah hampir dua tahun aku menimba ilmu di sekolah ini ,
namun aku masih belum bisa mengenal seluruh temanku dengan baik . Siswa
seangkatan yang ku kenali tidaklah banyak. Ya paling teman sekelas dan teman
kelas X dulu . Jadi jika sering terdengar kabar burung tentang siswa yang bikin
heboh, aku hanya menjadi pendengar setia tanpa mengetahui pelakunya . Namun aku
tak pernah merasa kesepian , karena aku selalu merasa asyik dengan duniaku
sendiri. Aku sangat tertarik dengan dunia sastra . Entah sudah berapa ratus
kali aku menggoreskan tinta di atas kertas dan menghasilkan susunan kata-kata
indah yang bermakna besar .
Hari ini aku menjalani kegiatan belajar mengajar seperti hari-hari
biasa. Ditengah pelajaran biologi, kantukku sangat tak tertahankan . Aku
berharap bel istirahat cepat berdering . Aku sangat ingin pergi ke kantin dan
membeli segelas kopi agar mataku bisa bertahan hingga jam terakhir . Aku masih
harus melewati empat jam pelajaran lagi . Kantukku bukan karena kekurangan
porsi tidur , tapi karena ada hal lain yang mengganjal, yang membuatku selalu
ingin tidur . Dengan penuh perjuangan , pelajaran biologi pun berakhir dan bel
tanda istirahat telah berdering beberapa detik lalu . Aku segera bergegas ke
kantin tanpa mengajak teman sama sekali . Ya , aku terlalu menginginkan kopi
saat ini . Setibanya di kantin , aku memesan satu cup kopi seharga Rp 3000,- .
Beruntung antrean yang ada belum terlalu panjang sehingga aku tak perlu
menunggu lama . Setelah mendapatkan
pesananku , aku segera menuju kasir untuk membayar . Menyebalkan , di kasir
terlihat segerombolan anak laki-laki yang sedang antre membayar . Setelah aku
mendekat benar saja perkiraanku, mereka yang awalnya tidak antre alias hanya
bergerombol, langsung menerobos antreanku. Aku tidak mengenali mereka, namun
yang jelas mereka adalah anak kelas XI IPS . Tapi memang semua anak laki-laki
begitu, tak peduli prodi IPA atau IPS. Tapi.. ada seorang anak laki-laki yang
tidak ikutan menerobos antreanku . Aku juga tidak mengenalinya , namun Ia malah
tersenyum dan mempersilahkanku mengantre di depannya . Anak yang aneh, batinku
. Aku membayar dengan satu lembar dua puluh ribuan , begitu mendapatkan uang
kembalian tanpa menghitungnya lagi, langsung ku masukkan ke dalam saku bajuku
dan aku segera berjalan meninggalkan kantin menuju kelasku . Tak terasa bel
tanda berakhirnya istirahat telah berakhir. Akupun mulai mengikuti pelajaran
seperti biasa . Beruntung kopi yang ku minum ketika istirahat tadi mampu
menahan kantukku hingga jam pelajaran terakhir . Alunan lagu ‘syukur’ telah
terdengar, akupun bersiap-siap untuk pulang . Tapi aku yakin di luar sana ,
Ayah pasti belum datang . Aku memutuskan untuk menunggu kabar dari Ayahku untuk
menjemput dengan duduk di kursi yang tersedia di depan kelasku .
Aku duduk sambil memainkan pena di atas lembar buku yang telah
terisi oleh banyak puisi karyaku . Aku melontarkan seluruh imajinasi yang ada
di kepalaku . Namun tiba-tiba telah berdiri seorang laki-laki tepat dihadapanku
. Setelah ku lihat wajahnya...
“Hai...” sapa laki-laki itu dengan ramah . Aku hanya membalasnya
dengan senyuman . Tanpa bertanya ataupun ragu, anak laki-laki yang ternyata
orang yang ku sebut aneh ketika di kantin tadi langsung duduk di sampingku .
“Kamu ngerasa kehilangan sesuatu ga?” tanya orang itu .
“Ha ? Nggak tuh . Kehilangan apaan ?”
“Wah .. Kamu itu cantik-cantik kok ceroboh “
“Heh apaan sih, dateng dateng malah ngatain orang seenaknya! “
“Wusss.. Kalem to . Ini aku mau ngasih uang kembalian . Pas kamu
jajan di kantin tadi, uang kembalianmu kurang lima ribu, tapi kamu keburu pergi
. Coba di cek deh “
Loh? Aku tidak menyadari hal itu , aku segera mengambil uang yang
ada di saku bajuku dan menghitungnya . Benar saja, uang yang ada hanya Rp
12.000,- .
“Eh iya bener, duh maaf ya udah bentak kamu”
“Hahaha.. Gak papa kok, aku juga yang salah . Nih uangmu”
“Makasih yaa “
“By the way, kamu belum pulang Feb ?”
“Belum.. Nunggu jemputan .. Eh eh eh bentar, kok kamu bisa manggil
aku Feb ? Kamu tau namaku?”
“Tau dong. Aku gitu . Nazwa Febri Alinta , pecinta sastra apalagi
puisi “ orang itu menjawab dengan ekspresi kepuasan . Akupun semakin bingung .
“Kamu tau darimana ?”
Tiba-tiba Nadia , teman sebangkuku keluar dari kelas . Dia melihat
aku dan anak laki-laki itu duduk bersama .
“Ehm..enak banget nih duduk berduaan “ dengan wajah mengejek Nadia
menyapa .
“Hai Nad . Udah selesai urusannya ?” sapa laki-laki itu . Aku
semakin bingung melihat keakraban mereka berdua .
“Udah kok . Kamu ngapain Feb sama si tuyul ini?”
“Loh? Kamu kenal Nad ? Dia tadi nganterin uangku yang ketinggalan
di kantin” jawabku.
“Ya kenal lah, dia ini sepupuku . Rumah kami aja sebelahan .
Berangkat pulang barengan terus. Kalian udah kenalan ?”
Aku dan anak laki-laki itu menggelengkan kepala bersamaan .
Akhirnya kamipun berkenalan . Kami berjabat tangan seraya menyebutkan nama .
“Angga ..” nama yang terucap
dari bibirnya ketika berjabat tangan denganku .
“Ngga , pulang yuk . Aku ada les nanti jam 3 . Feb , kami pulang
dulu ya”
“Oh, iya deh . Hati-hati ya kalian “ jawabku disertai seulas
senyuman . Merekapun bergegas pergi , dan aku kembali melanjutkan puisiku .
Namun tiba-tiba Angga berlari kembali ke arahku .
“Besok aku mau baca apa yang kamu tulis “ setelah mengatakan hal tersebut , Angga
langsung berlari ke arah Nadia yang terlihat kebingungan melihat Angga . Aku
hanya terdiam mendengar ucapan Angga . Sungguh , laki-laki aneh . Tak lama
ponselku berdering , terlihat pesan dari Ayah bahwa beliau telah menunggu di
depan gerbang sekolah .
Keesokan harinya aku datang sangat pagi karena Ayah harus berangkat
lebih pagi . Sekolahku masih sangat sepi. Di kelas hanya ada aku dan Nadia .
Nadia pun bercerita bahwa Ia selalu menceritakan apapun yang terjadi kepada
Angga . Atau dengan kata lain , Angga yang merupakan siswa kelas XI IPS 4 itu
adalah teman curhat Nadia . Mereka sudah bersama sejak kecil jadi wajar jika
Angga tau semua tentang aku dan kebiasaanku . Ternyata Angga juga Pecinta
Sastra. Namun Ia hanya menyukai puisi . Setelah berbincang dengan Nadia , aku
ingin keluar kelas untuk menikmati indahnya pemandangan di pagi hari . Aku
meninggalkan Nadia sendiri di kelas karena kebetulan Ia belum mengerjakan tugas
yang harus dikumpulkan hari ini . Aku duduk di kursi depan kelasku sambil
memandangi indahnya taman yang ada di bagian tengah sekolahku ini . Seperti
kemarin siang , Angga datang dengan tiba-tiba namun kali ini aku lebih tenang
karena Angga sudah tak sepenuhnya asing bagiku . Semenjak kedatangan Angga ,
kami berdua tak ada hentinya dalam berbincang . Hal yang kami bicarakan tak
lain tentang puisi . Entah mengapa aku merasa langsung klop dengan Angga
. Mungkin karena kami memiliki hobi yang sama . Seakan terhanyut dalam derasnya
arus yang mengalir , tak sadar aku telah menceritakan hal yang telah membebani
fikiranku selama ini . Dalam genggamanku terlihat setumpuk kertas tersusun rapi
. Di kertas tersebut tertulis ‘Karya Tulis’ dan terpampang judul ‘Pengaruh
Sastra dalam Prestasi Belajar Siswa’ . Bukan atas dasar eksistensi pribadi ,
tapi karena kecintaanku kepada sastra dan aku sangat ingin mengembangkan sastra
yang selama ini sering diabaikan di lingkungan remaja yang membuat aku sangat
ingin mendirikan suatu organisasi berisi kegiatan yang berhubungan dengan
sastra . Karya tulis yang sebenarnya tugas sekolah aku jadikan sebagai alat
penyalur aspirasiku . Karena aku tidak terlalu mengenal banyak orang , maka hal
tersebut sulit bagiku untuk terlaksana . Aku tidak pernah menceritakan tentang
cita-cita sederhanaku ini kepada siapapun termasuk Nadia . Selama ini aku hanya
terus memikirkan cara bagaimana semua ini bisa terwujud . Dan Angga merupakan
orang pertama yang tau tentang semua rencanaku ini . Walau Angga bukan orang
yang aktif dalam organisasi dan entah apa tujuanku menceritakan semua ini
kepada Angga , namun semua ini terasa lebih ringan . Tak terasa bel tanda masuk
telah berbunyi . Angga sangat ingin membaca buku yang berisi puisi-puisi
karyaku , namun aku belum mengizinkannya . Mungkin suatu saat nanti .
Sejak aku menceritakan impianku tersebut , Angga semakin sering
menemuiku . Menurutnya , itu merupakan cita-cita mulia yang perlu didukung .
Angga sering mengajakku menemui para pengurus OSIS untuk membahas rencanaku
tersebut . Rencanaku disambut baik oleh mereka semua . Aku dan Angga diminta
menjadi pemimpin dalam mendirikan organisasi tersebut dan kami diminta untuk
mencari siswa/i yang memiliki bakat ataupun minat dalam bidang sastra . Oleh
karena itu, aku dan Angga semakin akrab . Bahkan Angga sering main ke rumahku
untuk membahas rencana kami atau hanya untuk sekedar menulis puisi . Terkadang
Angga juga ke rumahku untuk melukis, karena Ia memang pandai melukis dan
kebetulan pemandangan sekitar rumahku sangat indah . Ayah dan Bunda menyambut
baik kedatangan Angga . Karena selama ini aku tidak pernah mengajak teman untuk
main ke rumahku . Mungkin semua ini membuat orang tuaku lega , setidaknya
mereka tau aku memiliki sahabat .
Seiring berjalannya waktu , Aku dan Angga telah berhasil mendirikan
organisasi yang menjadi impianku tersebut . Anggota kami terus bertambah hingga
mencapai angka 40 siswa yang terdiri dari siswa kelas X dan XI . Kami
mengadakan pertemuan rutin setiap hari Sabtu . Dua bulan di awal semua berjalan
mulus . Setiap pertemuan selalu dihadiri oleh para anggota . Hingga suatu
ketika pada hari Sabtu di awal bulan ketiga pertemuan yang dibina oleh guru
bahasa Indonesia kami tersebut hanya dihadiri oleh 5 orang siswa dan dua
diantaranya adalah aku dan Angga . Rasanya seperti terjun dari atas langit .
Entah apa alasan mereka tidak menghadiri pertemuan ini . Namun Angga meminta
agar aku berfikir positif, mungkin mereka sedang ada keperluan lain yang lebih
penting . Aku menjadi lebih tenang setelah mendapat semangat dari Angga .
Beberapa minggu berjalan , ini kali ke-4 pertemuan Pecinta Sastrahanya dihadiri
oleh tak lebih dari lima orang . Sungguh ini sangat menyakitkan , padahal dua
minggu lagi, lomba puisi akan diadakan di tingkat kota . Setiap sekolah wajib
mengirimkan empat siswa sebagai perwakilan . Di awal rencana , aku ingin
diadakan seleksi dari seluruh anggota Pecinta Sastradi sekolahku ini . Namun
setelah ada pemberitahuan , tak ada dari mereka yang tergerak untuk datang .
Hanya tiga orang siswa kelas X yang datang . Mengetahui itu semua , pihak OSIS
berencana ingin membubarkan organisasi yang telah aku pertahankan tersebut .
Tapi aku memohon dengan sangat untuk memberi toleransi hingga lomba puisi
diselenggarakan . Jika setelah lomba tersebut anggota yang hadir masih sangat
sedikit, maka aku harus ikhlas jika organisasi Pecinta Sastradibubarkan . Angga
selalu mendukungku, Ia selalu memberi semangat , mungkin ini yang disebut
persahabatan .
Waktu untuk lomba telah tiba . Berdasar kesepakatan perwakilan dari
sekolah kami adalah Aku, Angga dan dua siswa kelas X yakni Nico dan Arini . Kami
semua melombakan puisi karya kami masing-masing . Sungguh hal yang tak terduga
ketika mendengar pengumuman bahwa Aku,Angga dan Nico bisa lolos ke tingkat
provinsi . Mungkin nasib baik belum berpihak kepada Arini . Perlombaan tingkat
provinsi yang hanya selisih waktu dua minggu dengan lomba tingkat kota tersebut
dilaksanakan di Kota Semarang . Pagi itu Aku , Angga dan Nico berangkat dengan
menggunakan mobil pribadi milik guru pembina kami . Setelah beberapa jam
menunggu giliran , akhirnya tiba waktunya bagi kami untuk tampil . Aku tak
pernah merasa sedikitpun gugup ketika diminta untuk menunjukkan karya dan
kemampuan dalam bidang ini . Mungkin atas dasar itu juga , diantara kami
bertiga hanya aku yang tampil menjadi juara untuk mewakili provinsi Jawa Tengah
di tingkat Nasional . Terlihat ekspresi
kecewa di wajah Angga dan Nico , namun
Angga masih sanggup tersenyum dan larut dalam kebahagiaan yang aku
rasakan .
Tiba waktunya untuk unjuk kebolehanku di Jakarta . Hal yang paling
membuatku semangat ialah Angga rela tidak masuk sekolah demi memberi dukungan
untukku di lomba ini . Hari ini pun menjadi sangat menyenangkan . Kompetisi
tersebut telah kujalani . Entah apa hasilnya nanti , yang pasti aku telah lega
dan merasakan arti persahabatan .
Tiba waktunya untuk mendengar pengumuman hasil jerih payahku . Dan
aku... Aku harus puas dengan juara 2 . Walau tidak jadi juara pertama , namun
saat itu aku sama sekali tak merasa sedih
justru aku merasa sangat gembira .
Selepas keluar dari ruang peserta , aku telah disambut oleh
kehadiran Angga . Ia melontarkan senyum terindahnya kepadaku .
“Kamu sangat hebat .. Kamu sudah menjadi juara yang sesungguhnya “
ujar Angga seraya merangkulku .
“Ah kamu bisa aja , thanks ya “
Dari lokasi lomba , Angga meminta izin kepada Bunda untuk
mengajakku jalan-jalan keliling kota Jakarta . Tanpa ragu Bunda mengizinkan
kami pergi dan Bunda langsung kembali ke hotel tempat kami menginap .
Kami pergi jalan-jalan menikmati pesona Jakarta di sore hari . Kami
sangat menikmati hari ini , sungguh hari yang indah . Hingga kami merasa lelah,
dan beristirahat di sebuah Taman Kota . Kami tak henti-hentinya
berbincang-bincang . Perbincangan kami berbelok kesana kemari , entah apa yang
sedang kami bahas tapi semua ini menyenangkan .
“Coba lihat bintang-bintang di langit itu ! Lihat ada satu bintang
yang terlihat beda, terlihat paling indah” ujar Angga .
“Iya , aku lihat , kenapa ?”
“Gak apa-apa . Indah aja kalo kita bisa jadi kayak bintang itu “
Aku hanya menanggapinya dengan senyuman .
“Feb.. Salah gak kalo aku ngerasain cinta ?”
“Hah? Ya enggaklah.. Kamu juga pasti udah ngerasain kali. Kamu pasti
cinta sama keluarga, sama temen , jadi apa yang salah coba ? “
“Tapi.. Aku cintanya sama kamu”
“Aku juga cinta , kamu itu sahabat terindah yang pernah aku punya”
jawabku sambil menatapnya dengan senyuman . Sebenarnya, aku tau apa maksud
pembicaraannya . Namun aku tak ingin membahasnya. Angga pun hanya membalasnya
dengan senyuman .
Waktu terus berlalu, Pecinta Sastratidak jadi dibubarkan tapi malah
bertambah peminatnya. Mereka juga selalu menghadiri pertemuan yang ada . Aku
sangat senang. Aku dan Angga juga masih menjadi sahabat yang sangat akrab . Tak
terasa waktu cepat berlalu , saatnya telah tiba . Namun aku tidak tega
melakukan semua ini . Aku hanya bisa menitipkan secarik kertas dan buku
kumpulan puisiku kepada Nadia untuk diberikan kepada Angga .
To:
Angga
Ngga
, sorry banget ya Aku gak gentle . Aku gak berani ngomong langsung ke kamu . Aku
milih pake cara kuno, pake surat . Untuk kesekian kalinya, aku harus ikut Ayah
ke mana Beliau ditugaskan . Aku pamit ya , Aku harus pindah ke Medan . Tapi
tenang saja , kalau ada waktu aku bakal main ke Solo kok . Oh iya, inget
tentang apa yang kamu omongin ke aku beberapa bulan lalu selepas aku lomba ?
Aku ngerti maksudmu kok, tapi kita sama-sama sekolah dulu , lulus bareng,
sukses bareng , baru mikir pasangan , hehe . Tapi persahabatan kita gak akan
putus kan ? Gak akan dan gak boleh !
Dan
ini buku yang dari dulu ingin kamu baca, tapi gak aku izinin . Simpan ya,
anggap kenang-kenangan dari aku . Dan di halaman 267 itu merupakan puisi
spesial buat kamu . Telfon aku kalo kamu udah baca surat ini .
Febri
Menurut
kabar yang diberi oleh Nadia , Angga sempat menangis ketika membaca suratku ,
namun tangisan itu berubah menjadi seulas senyum ketika Angga membuka halaman
267 pada buku yang aku berikan . Tak selamanya cinta diungkapkan dalam bentuk
pacaran .
Kuberjalan
mencari jiwa yang hilang
Namun
tak kutemukan
Tapi
tunggu , aku melihat jiwa lain yang datang
Jiwa
yang membakar semangatku
Jiwa
yang mampu melukiskan senyuman
Jiwa
yang tak pernah padam demi ragaku
Jiwa
itu Dia ..
(Hlm.267)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar